Langgeng Weblog

Kumpulan Tulisan Favorit

Archive for the ‘Hukum Syariah’ Category

Hukum Ibadah, Muamalah dan Prifat

Bagaimana Menentukan Awal dan Akhir Ramadhan?

Posted by langgeng pada 19 Agustus 2009

Dalil yang menyatakan tentang dimulainya berpuasa dan berhari raya adalah hadits Rasulullah saw:

  «صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ»

“Berpuasalah kalian karena melihat bulan, dan berhari rayalah kalian karena melihatnya.” (HR. Muslim)

Juga firman Allah SWT:

« فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ»

“Siapa saja di antara kalian yang menyaksikan bulan (hilal Ramadhan), maka hendaknya dia berpuasa.” (QS. Al-Baqarah [02]: 185)

Artinya kita baru diperbolehkan berpuasa apabila diantara kita ada yang melihat secara langsung bulan (hilal) sebagai pertanda pergantian bulan, meskipun secara perhitungan (hisab) bulan yang baru telah masuk.

Lantas bagaimana sekiranya kalau kita tidak bisa melihat bulan karena terhalang oleh mendung, meskipun hilal nyata-nyata ada? Maka dalam hal ini Rasulullah kemudian menyatakan:    

«فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوْا عِدَّةَ شَعْبَانَ»

“Jika mendung telah menghalangi kalian, maka sempurnakanlah (genapkanlah) hitungan Sya’ban.” (HR. Muslim)

Penentuan awal Ramadhan berbeda dengan penentuan waktu Shalat

Sedangkan hukum yang berkaitan dengan waktu pelaksanaan shalat berbeda dengan hukum penentuan awal puasa. Dalil-dalil tentang waktu shalat adalah sbb:

«أَقِمِ الصَّلاَةَ لِدُلُوْكِ الشَّمْسِ»

“Dirikanlah shalat, karena matahari telah tergelincir.” (QS. Al-Isra’ [17]: 78)

«إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ فَصَلَّوْا»

“Jika matahari telah tergelincir, maka shalatlah kalian.” (HR. at-Thabrani)

Jadi, praktik shalat tergantung pada waktu, dan dengan cara apapun agar waktu shalat itu bisa dibuktikan, maka shalat pun bisa dilakukan dengan cara tersebut. Jika kita melihat matahari untuk melihat waktu zawal (tergelincirnya matahari), atau melihat bayangan agar kita bisa melihat bayangan benda, apakah sama atau melebihinya, sebagaimana yang dinyatakan dalam hadits-hadits tentang waktu shalat; jika kita melakukanya, dan kita bisa membuktikan waktu tersebut, maka shalat kita pun sah. Jika kita tidak melakukannya, tetapi cukup dengan menghitungnya dengan perhitungan astronomi, kemudian kita tahu bahwa waktu zawal itu jatuh jam ini, kemudian kita melihat jam kita, tanpa harus keluar untuk melihat matahari atau bayangan, maka shalat kita pun sah. Dengan kata lain, waktu tersebut bisa dibuktikan dengan cara apapun. Mengapa? Karena Allah SWT telah memerintahkan kita untuk melakukan shalat ketika waktunya masuk, dan menyerahkan kepada kita untuk melakukan pembuktian masuknya waktu tersebut tanpa memberikan ketentuan detail, tentang bagaimana cara membuktikannya.

Rukyat global dan sikap kaum muslimin dalam menentukan awal Ramadhan

Hadits tentang dimulainya berpuasa dan berhari raya di atas, bermakna umum yakni berlaku bagi siapa saja yang telah melihat hilal. Artinya siapa saja diantara seluruh kaum muslimin di muka bumi ini yang telah melihat hilal, maka pada saat itulah bulan baru telah masuk dan kaum muslimin diwajibkan untuk berpuasa atau berhari raya.

Berdasarkan sumber dari Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama MA-RI, ijtima’ menjelang awal bulan Ramadhan 1430 H jatuh pada hari Kamis, 20 Agustus 2009 M, bertepatan dengan 29 Sya’ban 1430 H, sekitar pukul 17:02 WIB. Pada saat matahari terbenam hari itu, ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia masih di bawah ufuk, antara -3°10′ sampai -0°50′. Artinya hilal belum wujud. Sehingga secara ilmu falaq di seluruh wilayah Indonesia muatahil untuk bisa melihat hilal.

Namun berdasarkan dalil di atas, maka kita umat muslim di Indonesia bisa menunggu hasil rukyat saudara-saudara kita yang berada di wilayah bagian barat dari Indonesia, yakni seperti India, Arab Saudi, Timur Tengah dan Afrika. Di wilayah tersebut pada saat matahari terbenam, ketinggian hilal sudah diatas ufuk, sehingga ada peluang hilal akan terlihat oleh saudara-saudara kita yang ada di sana.

Mengingat ini adalah perkara hukum syariah, maka alangkah mulianya apabila kita selalu mensandarkan kepada dalil-dalil syariah yang Allah SWT turunkan kepada manusia dalam menyelesaikan permasalahan hidupnya, termasuk dalam hal ini adalah menentukan awal Ramadhan. Sehingga kita bisa menunggu kabar dari saudara-saudara kita sesama muslim yang ada di India, Arab Saudi, Timur Tengah atau Afrika.

Wallahua’lam bi as-showab

Posted in Hukum Syariah | 1 Comment »