Langgeng Weblog

Kumpulan Tulisan Favorit

Archive for the ‘Aqidah’ Category

Kedatangan Imam Mahdi dan Pendirian Khilafah

Posted by langgeng pada 3 Oktober 2009


Kedatangan Imam Mahdi adalah salah satu tanda-tanda utama Hari Kiamat. Tidak seperti kemunculannya, tanda-tanda kecil akan memberi sinyal bahwa kiamat sudah dekat dan orang yang beriman harus memastikan bahwa mereka siap untuk bertahan dengan cobaan dan kesengsaraan (fitnah). Al-Mahdi akan datang di saat umat Islam terpecah belah dan di mana tirani dan keburukan akan menjadi keadaan yang merata. Situasi akan sangat buruk sehingga orang akan berharap dia tidak terlahir atau bahwa jika seseorang meninggal, ia akan berharap bahwa itu adalah dia.

Cerita tentang al-Mahdi, seperti diceritakan dalam sunnah, adalah cerita tentang harapan di mana hasil perjuangan antara Haq dan Batil, maka orang-orang yang beriman akan memperoleh kemenangan atas orang-orang kafir, di mana bumi dipenuhi dengan kedamaian dan keadilan karena aturan yang adil dari al-Mahdi. Hal ini diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudri (ra) bahwa Rasulullah (Sallallahu alaihi wassalam) berkata: “Nanti ummatku pada akhir zaman, al-Mahdi akan muncul.
Allah akan memberikan kepadanya hujan, bumi akan mengeluarkan buah-buahnya, ia akan memberikan banyak harta, ternak akan meningkat dan umat akan menjadi hebat. “(HR Al-Hakim dalam Mustadrak, 4/557-558). Kisah al-Mahdi adalah salah satu yang mendorong kaum beriman untuk berusaha bagi kesatuan umat Islam dan keadilan Islam melalui pembentukan Khilafah dan penerapan Syari’ah sebagai orang yang beriman tahu bahwa suatu hari seluruh dunia akan tercerahkan oleh cahaya Islam dan kepalsuan akan lenyap. Tapi sampai hari itu datang, dia harus mengambil anjuran dari bisharah (kabar gembira) dari Rasulullah (Sallallahu alaihi wassalam) dan berjuang dan bekerja untuk Islam mengikuti Sunnah Rasulullah (Sallallahu alaihi wassalam).

Jadi kadang-kadang sedih mendengar bahwa beberapa temuan dalam kisah al-Mahdi alasan dan pembenaran untuk tidak bertindak, mengambil pandangan fatalistik bahwa kita sebagai umat tidak bisa, dan bahkan tidak boleh, melakukan apa-apa tentang keadaan yang rusak sampai al-Mahdi muncul di akhir zaman dan menegakkan Khilafah. Jelas, ini bukan pesan yang diambil para sahabat (semoga Allah ridho dengan mereka) ketika mereka mendengar cerita langsung dari lisan Rasulullah (Sallallahu alaihi wassalam). Mereka mendengar cerita ini dan mereka mengambil pelajarannya dan mereka bekerja tanpa kenal lelah, yang pertama kali di Makkah untuk menegakkan dar al-Islam dan kemudian setelah berdirinya di Madinah untuk mengkonsolidasikan dan memperluas pengaruh Negara Islam. Setelah kematian al-Mustafa (Sallallahu alaihi wassalam) Shabat ditunjuk sebagai Khalifah (pengganti) memperluas kekuasaan Islam bahkan lebih jauh hingga cahaya Islam telah menyebar ke sebagian besar dunia. Jadi, bagaimana bisa bahwa kedatangan Imam Mahdi telah menjadi alasan bagi sikap pasrah untuk menerima keadaan atas realitas yang rusak? Memang, jika kita menganalisa laporan otentik tentang kedatangan al-Mahdi dari kedua kenabian dan sudut pandang hukum kita dapat menyimpulkan sebagai berikut:

Khilafah tidak akan ditegakkan oleh al-Mahdi tetapi dia akan datang menjadi Khalifah setelah kematian Khalifah sebelumnya. Dengan kata lain Khilafah akan ditegakkan oleh Muslim sebelum kedatangan al-Mahdi. Ini dengan jelas dapat dilihat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah (ra) bahwa Rasulullah (Sallallahu alaihi wassalam) berkata:

“Ketidaksepakatan akan terjadi pada kematian seorang khalifah dan seorang laki-laki dari penduduk Madinah akan datang terbang ke Mekah.
Beberapa orang Mekah akan datang kepadanya, membawa dia menentang kehendak-Nya dan memberikan bay’ah kepadanya antara Rukn dan Maqam.
Pasukan ekspedisi kemudian akan dikirim melawan dia dari Suriah namun akan tertelan di padang pasir antara Mekah dan Madinah.
Ketika orang-orang melihat bahwa, Allah takut akan orang-orang Syria dan Irak orang-orang terbaik akan datang kepadanya dan bersumpah setia kepadanya di antara Penjuru dan Maqam.
Lalu akan muncul seorang pria dari Quraisy yang milik paman ibu Kalb dan mengirim terhadap mereka pasukan ekspedisi yang akan diatasi oleh mereka, dan itu adalah ekspedisi Kalb.
Ia akan membagi harta, dan akan memerintah rakyat dengan Sunnah Nabi mereka (saw) dan membangun Islam di Bumi.
Dia akan tetap tujuh tahun … ”
(Diriwayatkan oleh at-Tabrani dalam al-Awsat. Berdasarkan Ibnu Hajar dalam Majma ‘az-Zawaid penyiar narasi at-Tabrani’s yang sehat dan autentik.)

Perhatikan hadis di atas yang menyatakan bahwa sengketa akan terjadi pada kematian Khalifah dan akibatnya seorang laki-laki akan muncul setelah diberikan bai’at sebagai Khalifah dan menyatakan dirinya sebagai Imam Mahdi. Jadi, jelas al-Mahdi tidak akan menegakkan Khilafah Rashidah yang akan kembali seperti yang diramalkan dalam hadits, dan juga dia tidak akan menjadi Khalifah pertama setelah penghancuran Khilafah dan ia juga tidak akan menjadi Khalifah terakhir. Sebaliknya, ia hanya akan menjadi Khalifah yang akan menegakkan keadilan Islam di muka bumi.Ini adalah dari sudut pandang cerita tentang kisah yang diramalkan oleh Nabi (Sallallahu alaihi wassalam).

Dari perspektif hukum syar’i atau hadis yang detail munculnya Imam Mahdi tidak menetapkan aturan Syari’ah baru untuk realitas umat Islam hari ini, karena terkait dengan situasi yang berbeda ketika Khilafah eksis. Hukum syar’i atau aturan ilahi yang datang untuk manaat (realitas yang berhubungan dengan hukum) yang memerlukan penguasa, yang merupakan kenyataan dan kita saat ini bukan akhir zaman yang akan ditandai dengan tanda-tanda utama hari kebangkitan. Hukum syar’i dasarnya adalah permintaan untuk melakukan tindakan atau menahan diri dari hal itu apakah dengan cara kewajiban (wujoob), larangan (tahreem), dorongan (nadb) atau putus asa (karaaha). Meskipun hadis-hadis tentang Imam Mahdi tidak meminta kewajiban untuk menegakkan Khilafah, karena mereka sebagian besar ikhbari (informatif) di alam dan sebagai Khilafah sudah ada ketika al-Mahdi datang (yang merupakan alasan mengapa kita katakan kenyataan ini tidak dapat diterapkan), tetapi mereka tentu saja TIDAK mengatakan bahwa itu tidak wajib berusaha untuk sebuah Khilafah ketika tidak ada. Memang aturan-aturan Syari’ah yang diterapkan pada zaman Nabi (Sallallahu alaihi wassalam) berlaku sampai akhir zaman selama berkaitan dengan realitas di mana mereka datang. Jadi tidak hanya kaum Muslim harus mematuhi aturan tersebut (Syari’ah), namun juga al-Mahdi dan begitu pula ‘Isa (alaihi as salam), yang datang bukan sebagai Nabi tetapi sebagai pengikut Syari’ah Muhammad (Sallallahu alaihi wassalam). Jadi jika kedatangan seorang nabi besar seperti Isa (as), setelah kenabian Muhammad (Sallallahu alaihi wassalam), tidak dapat menangguhkan aturan Syariah, sehingga bagaimana kedatangan al-Mahdi juga menangguhkan aturan Syariah?

Adapun hukum syar’i tentang apa yang harus dilakukan ketika Khilafah tidak ada, seperti yang kita lihat dalam situasi kita saat ini, kita perlu merujuk pada hadis Rasulullah (Sallallahu alaihi wassalam) seperti yang juga ditujukan pada manaat (realitas ):

“Barang siapa mati tanpa bay’ah di lehernya, maka kematiannya adalah kematian Jahiliyyah.”
(HR Muslim dalam Sahih).

Hadits ini menjelaskan makna tersirat (mafhum) bahwa tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk hidup tanpa kehadiran seorang Khalifah seperti celaan orang yang mati tanpa kehadirannya. Akibatnya, hal itu menjadi wajib bagi seorang muslim untuk bekerja atau berusaha demi kehadiran seorang Khalifah yang akan memerintah dengan adil dan bekerja untuk perubahan, hanya melalui dakwah dan perjuangan politik, yang Ruwaibidah yang hina rulers. Ini adalah realitas kita saat ini dan bekerja untuk mendirikan Khilafah adalah masalah penting yang tidak bisa diabaikan oleh umat Islam.

Sementara kedatangan al-Mahdi adalah sosok penting dalam buku-buku hadits, hampir seolah-olah telah mengambil pribadi sebagai klausul “get-out” (jalan-keluar) untuk tidak bekerja mengembalikan Khilafah dan pemberian BAY’AH ke Khalifah berikutnya. Meskipun hanya menyebutkan Khilafah pada masa al-Mahdi dalam beberapa alasan umat Islam dari kewajiban mereka menghapus rezim yang busuk hari ini.Ya, akan ada lagi Khilafah lnsya Allah, tetapi apakah kita semua akan menjadi ummat yang hidup dalam kegelapan dan tidak melakukan apa pun untuk mengubah situasi itu? Dan menunggu Allah SWT membawa orang-orang yang mencintainya dan Dia mencintainya.

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (TQS. Al-Maidah[5]: 54)

Sumber: http://www.khilafah.eu/kmag/article/the-coming-of-al-mahdi-and-the-establishment-of-the-khilafah

 


 

Iklan

Posted in Aqidah | Leave a Comment »

Islam satu-satunya Mabda (Ideologi) yang Benar

Posted by langgeng pada 28 Juli 2009

Ta’rif Islam

Secara Bahasa (lughawi) “Islam” berasal dari kata “Aslama” yang bermakna “Anqada Ila” artinya tunduk dan patuh kepada.

Secara Definisi, Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada baginda Nabi Muhammad saw untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya dan dengan sesama manusia.

Batasan Islam, bahwa Islam adalah “agama yang diturunkan oleh Allah SWT”, telah mengecualikan agama yang disifatkan sebagai agama yang tidak diturunkan oleh Allah SWT., baik Hindu, Budha, Confucious, Sintoisme ataupun yang lain.

Sedangkan batasan “kepada baginda Nabi Muhammad saw”, mengecualikan agama yang lain, selain agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., baik agama yang diturunkan kepada Nabi Musa, Isa maupun yang lain. Apakah Kristen, Yahudi ataukah agama-agama Nabi dan Rasul yang lain.

Adapun batasan, “Yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya dan dengan sesame manusia”, berarti meliputi seluruh urusan; mulai dari urusan dunia hingga akhirat, baik yang berkenaan dengan dosa, pahala, surga, neraka ataupun aqidah, ibadah, ekonomi, social, politik, budaya, pendidikan dsb.

Beberapa nash yang menguatkan ta’rif ini adalah;

  1. Qur’an Surat Ali Imran ayat 19

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

    “Sesungguhnya agama (yang diridloi) disisi Allah hanyalah Islam”

  1. Qur’an Surat Al-Maidah ayat 3

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”

  1. Qur’an Surat Ali Imran ayat 85

    وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

    “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”

     
     

Ta’rif Mabda

Mabda atau ideologi adalah aqidah aqliyah yang melahirkan peraturan.

Yang dimaksud akidah adalah pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan hidup; serta tentang apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan, di samping hubungannya dengan sebelum dan sesudah alam kehidupan. Sedangkan peraturan yang lahir dari akidah tidak lain berfungsi untuk memecahkan dan mengatasi berbagai problematika hidup manusia, menjelaskan bagaimana cara pelaksanaan pemecahannya, memelihara akidah serta untuk mengemban mabda.

Mabda mencakup dua bagian, yaitu fikrah dan thariqah.

Fikrah yaitu akidah dan berbagai pemecahan masalah hidup.

Sedangkan thariqah adalah penjelasan tentang cara pelaksanaan, pemeliharaan akidah, dan penyebaran risalah dakwah.

Asas suatu mabda (ideologi) adalah ide dasar yang menyeluruh mengenai alam semesta, manusia, dan hidup.
Ide dasar yang menyeluruh ini menjadi akidah bagi mabda.
Dan akidah suatu mabda ini pula yang kemudian menjadi qaidah fikriyah (kaedah/landasan berpikir) sekaligus sebagai kepemimpinan berpikir (qiyadah fikriyah).

Dengan landasan ini dapatlah ditentukan arah pemikiran manusia dan pandangan hidupnya.

 

Dengan landasan itu pula dapat dibangun seluruh pemikiran dan dapat dilahirkan seluruh pemecahan problematika kehidupan.

 

Menimbang Kebenaran Suatu Mabda

Suatu Mabda dikatakan benar apabila qaidah fikriyah (landasan berpikir)-nya memenuhi 2 (dua) ketentuan:

  1. Sesuai dengan fitrah manusia.
  2. Dibangun berlandaskan akal.

Yang dimaksud dengan qaidah fikriyah itu sesuai dengan fitrah manusia, adalah pengakuannya terhadap apa yang ada dalam fitrah manusia, berupa kelemahan dan kebutuhan diri manusia pada Yang Maha Pencipta, Pengatur segalanya. Dengan kata lain, qaidah fikriyah itu sesuai dengan naluri beragama (gharizah tadayyun).

Sedangkan yang dimaksud dengan qaidah fikriyah itu dibangun berdasarkan akal adalah bahwa kaedah ini tidak berlandaskan materi atau mengambil sikap jalan tengah.

Apabila kita telusuri di dunia ini, kita hanya menjumpai 3 (tiga) mabda (ideologi). Yaitu Kapitalisme, Sosialisme termasuk Komunisme, dan Islam.

Kekeliruan mabda Kapitalisme

Kekeliruan mabda Kapitalisme dapat difahami antara lain:

  • Tidak sesuai dengan fitrah manusia
    • Mengingat manusia mempunyai kelemahan dan kekurangan, maka secara fitrah manusia memerlukan Zat Yang Maha Agung, yakni Tuhan. Keperluan manusia kepada Tuhan tidak terbatas pada waktu ibadah saja, namun juga pada saat manusia menjalani kehidupan dengan sesama manusia lainnya. Karena aqidah Kapitalisme berasaskan pada pemisahan antara agama dan kehidupan (fashlu ad-din ‘an al-hayat) atau “Sekularisme“, dimana mengakui eksistensi agama disatu sisi (dalam hal ibadah) namun disisi lain menolak apabila agama juga mengatur kehidupan manusia. Maka hal ini jelas sangat bertentangan dengan fitrah beragama pada diri manusia, dimana agama harusnya bisa menyelesaikan seluruh permasalahan manusia baik dalam ibadah maupun dalam kehidupan manusia. Bukan malah kemudian dilakukan pemisahan dalam urusan agama dan kehidupan. Jika pemahaman aqidah ini dibiarkan maka akan terjadi kekacauan dalam pengaturan kehidupannya.
    • Sebagai contoh adalah Adam Smith. Ia dikenal sebagai Bapak Ilmu Ekonomi yang menggagas ekonomi klasik yang kemudian menjadi sumber ajaran ekonomi Kapitalisme. Namun disisi lain ia adalah seorang paderi Kristen yang sangat memahami ajaran Kristen yang mengagung-agungkan cinta kasih, belas kasih dan persaudaraan. Ternyata gagasan ekonominya yang mengutamakan kebendaan (materi) bertentangan 180° dengan ajaran agamanya, sehingga aliran ekonominya dikriik karena erlalu rakus dan tidak mengenal perikemanusiaan, yang kemudian ditinggalkan. Dan akhirnya muncul aliran baru yaitu Sosialisme.
  • Tidak dibangun berlandaskan akal
    • Kapitalisme adalah ideologi yang dibangun melalui jalan tengah (al-hallu al-wasath) atau kompromi antara tokoh gereja dengan filosof. Bukan karena pertimbangan rasional menurut akal. Artinya mereka menetapkan jalan damai untuk mendamaikan konflik antara pihak gereja dengan kaum intelektual. Sehingga dalam berbagai perkara jelas mengkompromikan antara yang haq dengan yang batil; antara islam dengan kafir; dan antara petunjuk dengan kesesatan. Dengan kata lain, Kapitalisme membangun konsep pemisahan agama dengan kehidupan tersebut bukan karena pertimbangan rasional, melainkan karena usaha untuk mendamaikan konflik yang ada.

Kekeliruan Mabda Sosialisme

Sosialisme dan Komunisme, dari segi aqidahnya berasaskan materi (benda). Dalam pandangan Sosialime, alam, manusia, dan kehidupan berasal dari materi. Semua yang ada merupakan materi. Perubahan dari satu bentuk benda kepada bentuk benda yang juga merupakan proses perubahan materi (dialektika materialisme).

Kekeliruan mabda Kapitalisme dapat difahami antara lain:

  • Tidak sesuai dengan fitrah manusia
    • Fitrah manusia yang memerlukan agama dan lemah itu telah dinafikan oleh Sosialisme. Sebab, agama telah dianggap sebagai candu bagi masyaakat. Dengan begitu, naluri beragama manusia telah dibunuh dn dikubur hidup-hidup. Ini jelas bertentangan dengan fitrah manusia.
  • Tidak dibangun berlandaskan akal, melainkan berlandaskan materi saja.
    • Ini bermakna bahwa materi, dalam pandangan Sosialisme, adalah azali. Dan tentu ini sangat bertentangan dengan akal. Sebab, zat yang azali mestilah tidak memerlukan kepada yang lain dan terbatas. Sebaliknya, materi jelas memerlukan kepada yang lain dan terbatas.
    • Sebagai contoh, materi diklaim sebagai sumber kehidupan, sedangkan materi itu tidak dapat melahirkan dirinya sendiri. Disamping itu, materi mempunyai kelemahan dan keterbatasan. Matahari, misalnya, apabila terbit dari timur ke barat dan berkelanjutan, tentu memerlukan garis orbit yang sekaligus merupakan system bagi terbit dan tenggelamnya matahari. Pertanyaannya adalah, benarkah matahari mengikuti garis orbitnya tanpa ada yang mengatur? Adalah mustahil. Maka, benarkah matahari yang memerlukan garis orbit itu disebut sebagai tidak memerlukan kepada apapun atau kepada siapapun? Tentu tdak masuk akal. Dg demikian, Sosialisme telah gagal menjelaskan, bahwa materi itu bersifat azali.

Kebenaran Mabda Islam

Islam memandang bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Dialah yang mengutus para Nabi dan Rasul dengan membawa agama-Nya untuk seluruh umat manusia. Dan bahwa kelak manusia akan di-hisab atas segala perbuatannya di hari Kiamat. Karena itu, akidah Islam mencakup Iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, dan hari Kiamat, serta qadla-qadar, baik buruknya dari Allah SWT.

Kebenaran mabda Islam dapat difahami antara lain:

  • Sesuai dengan fitrah manusia
    • Sebab ia mempercayai adanya agama dan adanya kewajiban merealisir agama dalam kehidupan ini, serta menjalankan kehidupan sesuai dengan perintah dan larangan Allah. Beragama itu sesuai dengan fitrah. Dan salah satu penampakan naluri ini adalah taqdis (mengkultuskan sesuatu). Taqdis berlawanan dengan reaksi naluri-naluri lainnya. Penampakkan itu merupakan hal yang wajar bagi naluri (beragama). Jadi, beriman kepada agama dan wajib menyesuaikan amal perbuatan manusia di dalam kehidupan sesuai dengan perintah dan larangan Allah, merupakan sesuatu yang naluriah. Karena ia sesuai dengan fitrah manusia, maka mudah diterima oleh manusia.
  • Dibangun berlandaskan akal

Qiyadah fikriyah Islam adalah qiyadah fikriyah yang positif. Karena menjadikan akal sebagai dasar untuk beriman kepada wujud Allah. Qiyadah ini mengarahkan perhatian manusia terhadap alam semesta, manusia, dan hidup, sehingga membuat manusia yakin terhadap adanya Allah yang telah menciptakan makhluk-makhluk-Nya. Di samping itu qiyadah ini menunjukkan kesempurnaan mutlak yang selalu dicari oleh manusia karena dorongan fitrahnya. Kesempurnaan itu tidak terdapat pada manusia, alam semesta, dan hidup. Qiyadah fikriyah ini memberi petunjuk pada akal agar dapat sampai pada tingkat keyakinan terhadap Al-Khaliq supaya ia mudah menjangkau keberadaan-Nya dan mengimani-Nya.

Posted in Aqidah | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Bukti Kebenaran Al-Qur’an

Posted by langgeng pada 31 Maret 2009

Al-Quran itu datang dari Allah SWT,  dan sebagai bukti dapat dilihat dari kenyataan bahwa Al-Quran adalah sebuah kitab berbahasa Arab yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW. Al-Quran merupakan lafadz dan memiliki beberapa pengertian. Al-Quran merupakan lafadz dan makna sekaligus. Jika maknanya saja, maka tidak dinamakan sebagai al-Quran. Dan jika lafadznya saja, maka hal itu tidak mungkin terjadi tanpa (ada) maknanya secara mutlak. Sebab, asal pembentukan sebuah lafadz adalah untuk menunjukkan suatu makna tertentu. Keistimewaan al-Quran ada pada keistimewaan lafadznya. Dalam menentukan darimana asal Al-Quran, ada tiga kemungkinan. Pertama, kitab itu adalah karangan orang Arab. Kedua, karangan Muhammad SAW. Ketiga, berasal dari Allah SWT.
Baca entri selengkapnya »

Posted in Aqidah | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

Tujuan Perbuatan Manusia

Posted by langgeng pada 31 Maret 2009

Bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya wajib menyesuaikan seluruh amal perbuatannya dengan perintah dan larangan Allah. Tujuan yang hendak diraih dari penyesuaian ini adalah mendapatkan ridha Allah Swt. Disisi yg lain ganjaran berupa pahala surga atau siksa neraka juga adalah hal yg pasti akan diterima oleh manusia. Banyak dalil yg menunjukkan akan hal ini. Kesenangan di dalam surga dan siksaan di dalam neraka tergambar jelas di dalam Al-Qur’an. Ini sama halnya seseorang yg bekerja di suatu perusahaan, selain bekerja dengan sebaik-baiknya, ia juga mengharapkan imbalan berupa gaji tiap bulannya. Jika kerjanya tdk baik, maka si majikan tdk segan-segan untuk memberikan sanksi, bahkan kalau perlu PHK. So rasanya gak ada orang yg kerja di pabrik tanpa mau ambil gaji bulanannya.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Aqidah | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

Antara Bodoh dan Pintar

Posted by langgeng pada 30 Maret 2009

Bodoh atau jahil dalam istilah Arab, identik dengan perbuatan yg dilakukan tanpa bimbingan wahyu. Bodoh juga dilekatkan kepada orang-orang kafir yg tdk mau beriman kepada Allah SWT, orang-orang musyrik serta orang-orang yg senantiasa tidak menggunakan akalnya untuk berfikir tentang akan adanya hari pembalasan di akhirat nanti. Konsekuensi dari sikap bodoh adalah kerugian dan penyesalan, teramat sangat apabila kerugian itu dialami di akhirat kelak. Baca entri selengkapnya »

Posted in Aqidah | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

Siapakah Yang Disebut Kaum Muslimin Itu?

Posted by langgeng pada 29 Oktober 2008

Apakah pengikut para Rasul sebelum Nabi Muhammad saw itu kaum muslimin? Apakah pengikut Nabi Ibrahim as itu kaum muslimin? Apakah orang-orang Yahudi dan Nasrani itu kaum muslimin? Benarkah mereka itu kaum muslimin? Lantas siapakah sebenarnya yang disebut kaum muslimin itu?

Untuk menjawab pertanyaan-petanyaan diatas, dalam hal ini akan dibagi menjadi dua pembahasan.

Pertama. Secara Etimologi (bahasa)

Sesungguhnya lafadz ﺃﺳﻟﻢ (aslama) bermakna tunduk (inqôdu / ﺇﻧﻘﺎ). Al-Qur’an Al-Karim telah menggunakan makna ini dalam menjelaskan para pengikut Nabi-Nabi sebelum Nabi Muhammad saw.

Melalui lisan Nabi Nuh as. Allah SWT berfirman:

فَإِن تَوَلَّيْتُمْ فَمَا سَأَلْتُكُمْ مِّنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِىَ إِلاَّ عَلَى اللَّهِ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun dari padamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya).” (TQS Yunus: 72)
Baca entri selengkapnya »

Posted in Aqidah | Dengan kaitkata: , | Leave a Comment »

Makna Islam

Posted by langgeng pada 28 Oktober 2008

Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada baginda Muhammad saw untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya dan dengan sesama manusia.

Definisi ini merupakan deskripsi realitas, yg mempunyai ciri khas: Jami’ (mencakup semua realitas yang dideskripsikan) dan Mani’ (mencegah semua aspek yg tdk masuk dalam deskripsi tersebut). Inilah gambaran tentang definisi yg benar.

Batasan Islam, bahwa Islam adalah: “Agama yang diturunkan oleh Allah SWT.” telah mengecualikan agama yg disifatkan sbg agama yg tdk diturunkan oleh Allah SWT. Ini meliputi agama apa saja yg tdk diturunkan oleh Allah SWT., baik Hindu, Budha, Confucious, Sintoisme ataupun yg lain. Sedangkan batasan: “Kepada baginda Muhammad saw.” mengecualikan agama yg lain, selain agama yg diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., baik agama yg diturunkan kepada Nabi Musa, Isa maupun yg lain. Apakah Kristian, Yahudi ataukah agama-agama Nabi dan Rasul yg lain. Adapun batasan: “Yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya dan dengan sesama manusia.” berarti meliputi seluruh urusan; mulai dari urusan dunia hingga akhirat, baik yg berkenaan dengan dosa, pahala, syurga, neraka ataupun aqidah, ibadah, ekonomi, sosial, politik, budaya, pendidikan dsb.
Baca entri selengkapnya »

Posted in Aqidah | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »