Langgeng Weblog

Kumpulan Tulisan Favorit

Kedatangan Imam Mahdi dan Pendirian Khilafah

Posted by langgeng pada 3 Oktober 2009


Kedatangan Imam Mahdi adalah salah satu tanda-tanda utama Hari Kiamat. Tidak seperti kemunculannya, tanda-tanda kecil akan memberi sinyal bahwa kiamat sudah dekat dan orang yang beriman harus memastikan bahwa mereka siap untuk bertahan dengan cobaan dan kesengsaraan (fitnah). Al-Mahdi akan datang di saat umat Islam terpecah belah dan di mana tirani dan keburukan akan menjadi keadaan yang merata. Situasi akan sangat buruk sehingga orang akan berharap dia tidak terlahir atau bahwa jika seseorang meninggal, ia akan berharap bahwa itu adalah dia.

Cerita tentang al-Mahdi, seperti diceritakan dalam sunnah, adalah cerita tentang harapan di mana hasil perjuangan antara Haq dan Batil, maka orang-orang yang beriman akan memperoleh kemenangan atas orang-orang kafir, di mana bumi dipenuhi dengan kedamaian dan keadilan karena aturan yang adil dari al-Mahdi. Hal ini diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudri (ra) bahwa Rasulullah (Sallallahu alaihi wassalam) berkata: “Nanti ummatku pada akhir zaman, al-Mahdi akan muncul.
Allah akan memberikan kepadanya hujan, bumi akan mengeluarkan buah-buahnya, ia akan memberikan banyak harta, ternak akan meningkat dan umat akan menjadi hebat. “(HR Al-Hakim dalam Mustadrak, 4/557-558). Kisah al-Mahdi adalah salah satu yang mendorong kaum beriman untuk berusaha bagi kesatuan umat Islam dan keadilan Islam melalui pembentukan Khilafah dan penerapan Syari’ah sebagai orang yang beriman tahu bahwa suatu hari seluruh dunia akan tercerahkan oleh cahaya Islam dan kepalsuan akan lenyap. Tapi sampai hari itu datang, dia harus mengambil anjuran dari bisharah (kabar gembira) dari Rasulullah (Sallallahu alaihi wassalam) dan berjuang dan bekerja untuk Islam mengikuti Sunnah Rasulullah (Sallallahu alaihi wassalam).

Jadi kadang-kadang sedih mendengar bahwa beberapa temuan dalam kisah al-Mahdi alasan dan pembenaran untuk tidak bertindak, mengambil pandangan fatalistik bahwa kita sebagai umat tidak bisa, dan bahkan tidak boleh, melakukan apa-apa tentang keadaan yang rusak sampai al-Mahdi muncul di akhir zaman dan menegakkan Khilafah. Jelas, ini bukan pesan yang diambil para sahabat (semoga Allah ridho dengan mereka) ketika mereka mendengar cerita langsung dari lisan Rasulullah (Sallallahu alaihi wassalam). Mereka mendengar cerita ini dan mereka mengambil pelajarannya dan mereka bekerja tanpa kenal lelah, yang pertama kali di Makkah untuk menegakkan dar al-Islam dan kemudian setelah berdirinya di Madinah untuk mengkonsolidasikan dan memperluas pengaruh Negara Islam. Setelah kematian al-Mustafa (Sallallahu alaihi wassalam) Shabat ditunjuk sebagai Khalifah (pengganti) memperluas kekuasaan Islam bahkan lebih jauh hingga cahaya Islam telah menyebar ke sebagian besar dunia. Jadi, bagaimana bisa bahwa kedatangan Imam Mahdi telah menjadi alasan bagi sikap pasrah untuk menerima keadaan atas realitas yang rusak? Memang, jika kita menganalisa laporan otentik tentang kedatangan al-Mahdi dari kedua kenabian dan sudut pandang hukum kita dapat menyimpulkan sebagai berikut:

Khilafah tidak akan ditegakkan oleh al-Mahdi tetapi dia akan datang menjadi Khalifah setelah kematian Khalifah sebelumnya. Dengan kata lain Khilafah akan ditegakkan oleh Muslim sebelum kedatangan al-Mahdi. Ini dengan jelas dapat dilihat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah (ra) bahwa Rasulullah (Sallallahu alaihi wassalam) berkata:

“Ketidaksepakatan akan terjadi pada kematian seorang khalifah dan seorang laki-laki dari penduduk Madinah akan datang terbang ke Mekah.
Beberapa orang Mekah akan datang kepadanya, membawa dia menentang kehendak-Nya dan memberikan bay’ah kepadanya antara Rukn dan Maqam.
Pasukan ekspedisi kemudian akan dikirim melawan dia dari Suriah namun akan tertelan di padang pasir antara Mekah dan Madinah.
Ketika orang-orang melihat bahwa, Allah takut akan orang-orang Syria dan Irak orang-orang terbaik akan datang kepadanya dan bersumpah setia kepadanya di antara Penjuru dan Maqam.
Lalu akan muncul seorang pria dari Quraisy yang milik paman ibu Kalb dan mengirim terhadap mereka pasukan ekspedisi yang akan diatasi oleh mereka, dan itu adalah ekspedisi Kalb.
Ia akan membagi harta, dan akan memerintah rakyat dengan Sunnah Nabi mereka (saw) dan membangun Islam di Bumi.
Dia akan tetap tujuh tahun … ”
(Diriwayatkan oleh at-Tabrani dalam al-Awsat. Berdasarkan Ibnu Hajar dalam Majma ‘az-Zawaid penyiar narasi at-Tabrani’s yang sehat dan autentik.)

Perhatikan hadis di atas yang menyatakan bahwa sengketa akan terjadi pada kematian Khalifah dan akibatnya seorang laki-laki akan muncul setelah diberikan bai’at sebagai Khalifah dan menyatakan dirinya sebagai Imam Mahdi. Jadi, jelas al-Mahdi tidak akan menegakkan Khilafah Rashidah yang akan kembali seperti yang diramalkan dalam hadits, dan juga dia tidak akan menjadi Khalifah pertama setelah penghancuran Khilafah dan ia juga tidak akan menjadi Khalifah terakhir. Sebaliknya, ia hanya akan menjadi Khalifah yang akan menegakkan keadilan Islam di muka bumi.Ini adalah dari sudut pandang cerita tentang kisah yang diramalkan oleh Nabi (Sallallahu alaihi wassalam).

Dari perspektif hukum syar’i atau hadis yang detail munculnya Imam Mahdi tidak menetapkan aturan Syari’ah baru untuk realitas umat Islam hari ini, karena terkait dengan situasi yang berbeda ketika Khilafah eksis. Hukum syar’i atau aturan ilahi yang datang untuk manaat (realitas yang berhubungan dengan hukum) yang memerlukan penguasa, yang merupakan kenyataan dan kita saat ini bukan akhir zaman yang akan ditandai dengan tanda-tanda utama hari kebangkitan. Hukum syar’i dasarnya adalah permintaan untuk melakukan tindakan atau menahan diri dari hal itu apakah dengan cara kewajiban (wujoob), larangan (tahreem), dorongan (nadb) atau putus asa (karaaha). Meskipun hadis-hadis tentang Imam Mahdi tidak meminta kewajiban untuk menegakkan Khilafah, karena mereka sebagian besar ikhbari (informatif) di alam dan sebagai Khilafah sudah ada ketika al-Mahdi datang (yang merupakan alasan mengapa kita katakan kenyataan ini tidak dapat diterapkan), tetapi mereka tentu saja TIDAK mengatakan bahwa itu tidak wajib berusaha untuk sebuah Khilafah ketika tidak ada. Memang aturan-aturan Syari’ah yang diterapkan pada zaman Nabi (Sallallahu alaihi wassalam) berlaku sampai akhir zaman selama berkaitan dengan realitas di mana mereka datang. Jadi tidak hanya kaum Muslim harus mematuhi aturan tersebut (Syari’ah), namun juga al-Mahdi dan begitu pula ‘Isa (alaihi as salam), yang datang bukan sebagai Nabi tetapi sebagai pengikut Syari’ah Muhammad (Sallallahu alaihi wassalam). Jadi jika kedatangan seorang nabi besar seperti Isa (as), setelah kenabian Muhammad (Sallallahu alaihi wassalam), tidak dapat menangguhkan aturan Syariah, sehingga bagaimana kedatangan al-Mahdi juga menangguhkan aturan Syariah?

Adapun hukum syar’i tentang apa yang harus dilakukan ketika Khilafah tidak ada, seperti yang kita lihat dalam situasi kita saat ini, kita perlu merujuk pada hadis Rasulullah (Sallallahu alaihi wassalam) seperti yang juga ditujukan pada manaat (realitas ):

“Barang siapa mati tanpa bay’ah di lehernya, maka kematiannya adalah kematian Jahiliyyah.”
(HR Muslim dalam Sahih).

Hadits ini menjelaskan makna tersirat (mafhum) bahwa tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk hidup tanpa kehadiran seorang Khalifah seperti celaan orang yang mati tanpa kehadirannya. Akibatnya, hal itu menjadi wajib bagi seorang muslim untuk bekerja atau berusaha demi kehadiran seorang Khalifah yang akan memerintah dengan adil dan bekerja untuk perubahan, hanya melalui dakwah dan perjuangan politik, yang Ruwaibidah yang hina rulers. Ini adalah realitas kita saat ini dan bekerja untuk mendirikan Khilafah adalah masalah penting yang tidak bisa diabaikan oleh umat Islam.

Sementara kedatangan al-Mahdi adalah sosok penting dalam buku-buku hadits, hampir seolah-olah telah mengambil pribadi sebagai klausul “get-out” (jalan-keluar) untuk tidak bekerja mengembalikan Khilafah dan pemberian BAY’AH ke Khalifah berikutnya. Meskipun hanya menyebutkan Khilafah pada masa al-Mahdi dalam beberapa alasan umat Islam dari kewajiban mereka menghapus rezim yang busuk hari ini.Ya, akan ada lagi Khilafah lnsya Allah, tetapi apakah kita semua akan menjadi ummat yang hidup dalam kegelapan dan tidak melakukan apa pun untuk mengubah situasi itu? Dan menunggu Allah SWT membawa orang-orang yang mencintainya dan Dia mencintainya.

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (TQS. Al-Maidah[5]: 54)

Sumber: http://www.khilafah.eu/kmag/article/the-coming-of-al-mahdi-and-the-establishment-of-the-khilafah

 


 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: