Langgeng Weblog

Kumpulan Tulisan Favorit

Siapakah Yang Disebut Kaum Muslimin Itu?

Posted by langgeng pada 29 Oktober 2008

Apakah pengikut para Rasul sebelum Nabi Muhammad saw itu kaum muslimin? Apakah pengikut Nabi Ibrahim as itu kaum muslimin? Apakah orang-orang Yahudi dan Nasrani itu kaum muslimin? Benarkah mereka itu kaum muslimin? Lantas siapakah sebenarnya yang disebut kaum muslimin itu?

Untuk menjawab pertanyaan-petanyaan diatas, dalam hal ini akan dibagi menjadi dua pembahasan.

Pertama. Secara Etimologi (bahasa)

Sesungguhnya lafadz ﺃﺳﻟﻢ (aslama) bermakna tunduk (inqôdu / ﺇﻧﻘﺎ). Al-Qur’an Al-Karim telah menggunakan makna ini dalam menjelaskan para pengikut Nabi-Nabi sebelum Nabi Muhammad saw.

Melalui lisan Nabi Nuh as. Allah SWT berfirman:

فَإِن تَوَلَّيْتُمْ فَمَا سَأَلْتُكُمْ مِّنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِىَ إِلاَّ عَلَى اللَّهِ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun dari padamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya).” (TQS Yunus: 72)

Melalui lisan Nabi Ibrahim dan Ismail Allah SWT berfirman:

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَآ أُمَّةً مُّسْلِمَةً

“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau.” (TQS Al-Baqarah: 128)

Tentang kaum Luth Allah SWT berfirman:

فَمَا وَجَدْنَا فِيهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِّنَ الْمُسْلِمِينَ

“Dan Kami tidak mendapati negeri itu, kecuali sebuah rumah[1421] dari orang yang berserah diri.” (TQS Adz-Dzariyat: 36)

Dan melalui lisan Nabi Yusuf, Allah SWT berfirman:

تَوَفَّنِى مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِى بِالصَّـلِحِينَ

“Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (TQS Yusuf: 101)

Melalui lisan Nabi Musa as., Allah SWT berfirman:

فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُواْ إِن كُنْتُم مُّسْلِمِينَ

“Maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.” (TQS Yunus: 84)

Melalui lisan Nabi Sulaiman kepada Ratu negeri Saba’, Allah SWT berfirman:

أَلاَّ تَعْلُواْ عَلَىَّ وَأْتُونِى مُسْلِمِينَ

“Janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (TQS An-Naml: 31)

Dan melalui lisan Hawariyin pengikut Nabi Isa as., Allah SWT berfirman:

فَلَمَّآ أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنصَارِى إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ ءَامَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (TQS Ali Imran: 52)

Kata muslimun pada ayat-ayat diatas bermakna munqôduuna / ﻣﻨﻘﺎﺩﻭﻥ , yaitu orang-orang yang tunduk pasrah / berserah diri kepada Allah SWT dalam hal apa saja yang telah diperintahkan kepada mereka. Namun tidak berarti bahwa mereka telah memeluk Islam, karena agama ini tdk dikenal oleh mereka dan mereka pun tdk diseru dengannya. Setiap kaum mempunyai Rasul dari kalangan mereka dan Allah SWT telah mengutusnya dengan membawa syariat tertentu pula. Allah SWT berfirman:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَـجاً

“Untuk masing-masing (umat) diantara kamu, telah Kami tetapkan aturan dan syari’atnya sendiri-sendiri.” (TQS Al-Maidah:48).

Walaupun sesungguhnya aqidah itu satu, seperti dipahami dari firman-Nya:

إِنَّآ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ كَمَآ أَوْحَيْنَآ إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ

“Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu, sama seperti yang telah Kami wahyukan kepada Nuh dan Nabi-nabi setelahnya.” (TQS An-Nisa’: 163)

Setelah wahyu turun kepada Rasulullah saw dengan bahasa kaumnya yaitu bahasa Arab, kemudian wahyu memakai sebagian lafadz-lafadz lughawi wadh’iy (bahasa buatan manusia) yang ditransfer ke makna syar’i sebagaimana ditunjukkan oleh dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. Termasuk lafadzﺍﻹﺳﻼﻡ  (al-islâmu) yg makna bahasanya adalah tunduk patuh ﺍﻹﻧﻘﻴﺎﺩ  (inqiyâd). Lalu maknanya menjadi agama yg diturunkan oleh Allah SWT kepada baginda Nabi Muhammad saw untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya dan dengan sesama manusia. Dalilnya berupa firman Allah SWT:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ الأِسْلاَمَ دِيناً

“Hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agama kamu, dan telah Aku cukupkan untuk kamu nikmat-Ku, serta Aku ridhoi Islam sebagai agama kamu.” (TQS Al Maidah:3).

Dan firman-Nya:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلَـمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِى الاٌّخِرَةِ مِنَ الْخَـسِرِينَ

“Barangsiapa mencari selain Islam sebagai agama, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agam itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (TQS Ali Imran: 85).

Dan sabda Nabi saw:

ﺑﻨﻲﺍﻹﺳﻼﻡﻋﻟﻰﺧﻤﺲ۰۰۰۰

“Islam dibangun diatas lima rukun ….”

Dan setelah penukilan secara syar’i thd lafadz ﺍﻹﺳﻼﻡ dan derivatnya, maka ketika lafadz-lafadz ﺃﺳﻟﻢ (aslama), ﻣﺴﻟﻢ (muslimun), dan ﺇﺳﻼﻡ (islâmun) disebut dengan tanpa adanya indikasi tertentu, maka makna lafadz-lafadz itu menunjukkan hanya thd makna syar’i. Apabila dikehendaki makna lughawi wadh’iy, maka membutuhkan indikasi utnuk memalingkan dari makna syar’inya. Dan dalam Al-Qur’an, kata ﺍﻹﺳﻼﻡ  tidaklah datang kecuali pada delapan tempat, yakni QS [(2:208), (3:19), (3:85), (5:3), (6:125), (9:74), (39:22), & (61:7)], dimana pada delapan tempat itu Islam hanya mempunyai satu makna, yaitu agama yg diturunkan oleh Allah SWT kepada baginda Nabi Muhammad saw untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya dan dengan sesama manusia.

Itulah sudut pandang etimologis, dan sebenarnya telah cukup untuk mengetahui siapakah kaum muslimin itu? Karena lafadz ﺍﻹﺳﻼﻡ telah menjadi haqiqoh lughowiyah syar’iyah, spt telah ditunjukkan oleh dalil-dalil syara’ dengan sangat jelas dan gamblang.

Kedua, Secara Terminologi (definisi) Syara’

Dalam sudut pandang ini, sesungguhnya Allah SWT telah mengutus Nabi Muhammad saw kepada semua manusia dengan menyeru mereka supaya meninggalkan agama-agama yg telah dipeluknya, baik agama-agama samawi atau non samawi, kemudian manusia mengambil Islam sebagai agama mereka. Maka siapa saja menerimanya, berarti ia orang Islam. Sebaliknya, siapa saja tdk menerimanya, maka ia menjadi orang kafir, baik Yahudi, Nasrani atau orang musyrik. Allah SWT berfirman:

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَـبِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنفَكّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيّنَةُ

“Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” (TQS Al-Bayyinah: 1)

Kata   (munfakkîna / مُنفَكّينَ) bermakna memisahkan / meninggalkan kekufuran,dan kata (al-bayyinah / الْبَيّنَة) bermakna Islam.

Dan Nabi saw bersabda:

“Aku diperintahkan supaya memerangi manusia sampai mereka berkata Tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah, lalu apabila mereka mengucapkannya, maka mereka telah terjaga dariku darah dan harta mereka kecuali dengan haknya”.

Maka semua manusia telah dituntut shg mereka tdk diperangi oleh orang-orang muslim yaitu memeluk agama Islam atau tunduk pada hukum-hukum Islam dan mereka dibiarkan tetap atas agama mereka.

Nabi saw juga bersabda:

“Demi Dzat yg jiwa Muhammad tetap dalam kekuasaan-Nya, tidaklah seseorang dari imat ini mendengan dengan (kerasulanku), Yahudi atau Nasrani, kemudian dia mati dalam keadaan tdk beriman dengan agama dimana aku diutus dengannya, kecuali dia menjadi penduduk neraka”. [HR. Muslim dan Ahmad]

Dan Allah SWT berfirman:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلَـمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِى الاٌّخِرَةِ مِنَ الْخَـسِرِينَ

“Barangsiapa mencari selain Islam sebagai agama, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agam itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (TQS Ali Imran:85).

Dalil-dalil yg datang sangat banyak dan pasti, menunjukkan bahwa sesungguhnya Islam adalah agama yg diturunkan oleh Allah SWT kepada baginda Nabi Muhammad saw untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya dan dengan sesama manusia, dan sesungguhnya manusia semuanya sampai hari kiamat diajak untuk memeluk agama Islam ini dan diseru dengan hukum-hukumnya. Maka siapa saja memeluk Islam, ia adalah muslim. Dan siapa saja yang tdk memeluk Islam, maka ia adalah kafir secara pasti. Sehingga setiap org yg berkeyakinan bahwa orang Yahudi atau Nasrani atau lainnya setelah Islam sampai kepada mereka adalah orang-orang mukmin atau muslim atau termasuk penduduk surga, maka ia adalah kafir dan keluar dari agama Islam. Karena ia dgn keyakinannya itu telah mengingkari dalil-dalil syariat yg pasti sumbernya dan pasti pengertiannya. Ia harus kembali dari keyakinannya itu dan beristighfar (mohon ampunan) kepada Allah SWT. Kalau tidak, ia telah menjadi kafir dan menjadi penghuni neraka kalau ia mati tetap seperti itu.

Wallâhu a’lam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: