Langgeng Weblog

Kumpulan Tulisan Favorit

Makna Islam

Posted by langgeng pada 28 Oktober 2008

Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada baginda Muhammad saw untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya dan dengan sesama manusia.

Definisi ini merupakan deskripsi realitas, yg mempunyai ciri khas: Jami’ (mencakup semua realitas yang dideskripsikan) dan Mani’ (mencegah semua aspek yg tdk masuk dalam deskripsi tersebut). Inilah gambaran tentang definisi yg benar.

Batasan Islam, bahwa Islam adalah: “Agama yang diturunkan oleh Allah SWT.” telah mengecualikan agama yg disifatkan sbg agama yg tdk diturunkan oleh Allah SWT. Ini meliputi agama apa saja yg tdk diturunkan oleh Allah SWT., baik Hindu, Budha, Confucious, Sintoisme ataupun yg lain. Sedangkan batasan: “Kepada baginda Muhammad saw.” mengecualikan agama yg lain, selain agama yg diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., baik agama yg diturunkan kepada Nabi Musa, Isa maupun yg lain. Apakah Kristian, Yahudi ataukah agama-agama Nabi dan Rasul yg lain. Adapun batasan: “Yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya dan dengan sesama manusia.” berarti meliputi seluruh urusan; mulai dari urusan dunia hingga akhirat, baik yg berkenaan dengan dosa, pahala, syurga, neraka ataupun aqidah, ibadah, ekonomi, sosial, politik, budaya, pendidikan dsb.

Semua ini dijelaskan oleh dalil-dalil antara lain:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الإِسْلَـمُ

“Sesungguhnya agama (yg diridhoi) di sisi Allah hanyalah Islam…” (TQS Ali Imran:19)

Ayat ini menerangkan ttg kedudukan Islam sbg agama samawi yg diturunkan oleh Allah kepada manusia. Namun, apabila Allah menjelaskan: “Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam.” Itu bermakna, bahwa agama yg lain, yg pernah diturunkan oleh Allah tdk diakui oleh Allah, setelah diturunkannya Islam. Dan ini dikuatkan dengan firman Allah SWT.:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ الأِسْلاَمَ دِيناً

“Hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agama kamu, dan telah Aku cukupkan untuk kamu nikmat-Ku, serta Aku ridhoi Islam sebagai agama kamu.” (TQS Al Maidah:3).

Ayat ini menerangkan, bahwa hanya Islamlah yg diridhoi oleh Allah SWT. sedangkan yang lain, tidak. Ini boleh diambil dari mafhum mukhalafah kata: “Aku ridhoi” yg merupakan kata kerja yg bermakna sifat: “Aku ridhoi Islam sebagai agama kamu” artinya, “Selain Islam, Aku tidak ridhoi. “Mafhum ini diperkuat oleh dalil berikut:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلَـمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِى الاٌّخِرَةِ مِنَ الْخَـسِرِينَ

“Barangsiapa mencari selain Islam sebagai agama, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agam itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (TQS Ali Imran:85).

Ayat ini dengan jelas menyebutkan kata “Islam” sebagai “Din” (agama). Sedangkan kata yang sama: “Islam” tidak pernah sekalipun disebutkan oleh Al-Qur’an untuk menyebut nama agama-agama Nabi terdahulu. Kalau disebutkan pun dengan bahasa yang tidak jelas (mubham), seperti:

إِنَّآ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ كَمَآ أَوْحَيْنَآ إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ

“Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu, sama seperti yang telah Kami wahyukan kepada Nuh dan Nabi-nabi setelahnya.” (TQS An-Nisa:163).

ثُمَّ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَهِيمَ حَنِيفًا

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu untuk mengikuti “millah” Ibrahim yang lurus.” (TQS An Nahl:123).

Kedua ayat diatas menerangkan: “Kami telah mewahyukan kepadamu, sama seperti yang telah Kami wahyukan kepada Nuh.” adalah ayat yang bermakna umum. Dimana kata: “Kami telah mewahyuka” bisa meliputi aqidah, yaitu ajaran tauhid ataupun syariah, yaitu hukum, baik meliputi salah satu maupun keduanya sekaligus. Demikian pula kata: “Mengikuti ‘millah’ Ibrahim” adalah bermakna umum. Yang boleh meliputi dua hal, yaitu aqidah dan syariah. Namun jika kedua-duanya ini yang dimaksudkan, sudah tentu bertentangan dengan dalil yang muhkamat:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَـجاً

“Untuk masing-masing (umat) diantara kamu, telah Kami tetapkan aturan dan syari’atnya sendiri-sendiri.” (TQS Al-Maidah:48).

Oleh karena itu, pengertian yang tepat dan tidak bertentangan antara satu dalil dengan dalil yang lain, adalah: “Kami telah mewahyukan prinsip tauhid yang sama dengan apa yang Kami wahyukan kepada Nuh.” Termasuk makna “Mengikuti ‘millah’ Ibrahim” adalah: “Mengikuti prinsip tauhid Ibrahim yang lurus.” Meskipun dalam masalah syari’at berbeda. Sebab: “Masing-masing telah Kami tetapkan aturan dan syari’atnya sendiri-sendiri.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: