Langgeng Weblog

Kumpulan Tulisan Favorit

CARA ISLAM MEMBABAT MAFIA HUKUM

Posted by langgeng pada 13 November 2009

Masyarakat luas telah mengikuti pemutaran rekaman sebagian dari episode kisruh “cicak-buaya” yang disiarkan langsung oleh televisi selama kurang lebih 4,5 jam pada tanggal 3 November 2009. Ibarat gunung es, rekaman pembicaraan tersebut hanyalah menunjukkan bagian kecil dari apa yang terjadi sesungguhnya: adanya mafia hukum/peradilan.

Pemutaran rekaman telepon hasil penyadapan KPK yang ditonton oleh masyarakat luas itu kemudian menjadi pendorong kuat bagi mereka untuk menggugat seluruh instrumen penegak hukum dan sistem peradilan yang ada. Gugatan tersebut kemudian mereka lampiaskan baik di dunia nyata (mulai demonstrasi hingga unjuk seni parodi) maupun di dunia maya/internet (mulai dari ekspresi kekecewaan hingga kecaman).

Kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum pun makin rendah. Menurut jajak pendapat Kompas, 89,8% masyarakat percaya bahwa keputusan hukum di Indonesia bisa dibeli dengan uang (Kompas, 9/11/09).

Singkatnya, masyarakat seperti terbuka matanya dan mulai menyadari betapa suap-menyuap dan korupsi telah berurat akar dan menjadi lazim di negeri ini, khususnya di dunia peradilan.

Mafia Hukum: Bukti Nyata Kebobrokan Sistem Hukum dan Peradilan Sekular

Kasus di atas menjadi bukti nyata betapa amburadulnya sistem hukum dan peradilan sekular di Indonesia; baik menyangkut aparat penegak hukum, lembaga-lembaga hukum yang ada maupun undang-undang dan peraturan yang dijadikan acuannya. Undang-undang yang ada gagal mengatasi seluruh kasus hukum di masyarakat yang membutuhkan keadilan. Akibatnya, masih sering dibutuhkan adanya payung hukum baru seperti Perppu ataupun produk hukum yang lain saat UU atau peraturan yang ada dianggap tidak cukup memadai. Aparat dan lembaga hukum yang ada pun dianggap tidak cukup memadai dalam menangani banyak kasus hukum dan peradilan. Akibatnya, dibentuklah kemudian Tim Pencari Fakta (TPF) atas sejumlah kasus hukum di negeri ini sering terjadi. Terakhir, dalam kisruh KPK-Polri, dibentuk Tim 8 oleh Presiden. Sebagian pihak menilai kebijakan ini menjadi blunder dan kontradiktif (berlawanan) dengan sistem hukum yang ada, juga dengan sejumlah lembaga penegak hukum yang ada.

Sementara itu, Global Corruption Report melansir sekitar US$ 40 miliar (sekitar Rp 400 triliun) digunakan dunia usaha untuk menyuap pejabat setiap tahun. Pemberian suap itu bertujuan untuk memudahkan bisnis dan bahkan ada yang bermotif politik: mempertahankan pemerintahan yang korup! Suap sepertinya sudah menjadi “tradisi” dalam berbagai macam urusan apapun di negeri ini. “Semua itu dilakukan dengan modus operandi yang sangat terorganisasi,” kata Ketua Dewan Pengurus Transparansi Internasional Indonesia (TII) Todung Mulya Lubis saat peluncuran Global Corruption Report 2009, di Jakarta, Rabu (7/10).

Hasil riset yang dilakukan oleh berbagai lembaga juga menunjukkan bahwa tingkat korupsi di negeri yang penduduknya mayoritas Muslim ini termasuk yang paling tinggi di dunia. Bahkan koran Singapura, The Strait Time, sekali waktu pernah menjuluki Indonesia sebagai “the envelope country” karena segala hal bisa dibeli; entah itu lisensi, tender, wartawan, hakim, jaksa, polisi, petugas pajak atau yang lain.

Kasus korupsi yang ditangani KPK sejak Januari 2008-Agustus 2009 didominasi oleh modus suap. Menurut data ICW (Indonesia Coruption Watch), dari 95 kasus, ada 34 kasus (35,79 persen) modusnya suap; menyusul mark up 19 kasus (20 persen), penggelapan atau pungutan 18 kasus (18,95 persen), penyalahgunaan anggaran 15 kasus (15,79 persen), penunjukan langsung 8 kasus (8,42 persen), dan 1 kasus pemerasan. “Modus korupsi terbanyak yang diungkap KPK adalah suap.

Adapun dilihat dari latar belakangan profesi, tersangka korupsi paling dominan adalah swasta. Dari 95 tersangka: 19 di antaranya adalah swasta; disusul anggota DPR/DPRD 18 orang, pejabat eselon dan pimpro 17 orang; duta besar, pejabat konsulat dan imigrasi ada 13 orang; kepala daerah (gubernur, bupati, wali kota) 12 orang; dewan gubernur/pejabat Bank Indonesia 7 orang; pejabat BUMN 5 orang; komisi negara 2 negara; aparat hukum dan BPK masing-masing 1 orang. Mereka tersangkut kasus kejahatan baik karena korupsi yang merugikan keuangan negara, terlibat suap, menerima gratifikasi (hadiah) atau melakukan penggelapan, pemerasan, dan perbuatan curang lainnya.

Mantan Ketua Bappenas Kwik Kian Gie menyebut lebih dari Rp 300 triliun dana—baik dari penggelapan pajak, kebocoran APBN maupun penggelapan hasil sumberdaya alam—menguap masuk ke kantong para koruptor. Selain itu, korupsi yang biasanya diiringi dengan kolusi juga membuat keputusan yang diambil oleh pejabat negara sering merugikan rakyat. Heboh privatisasi sejumlah BUMN, lahirnya perundang-undangan aneh (semacam UU Energi, UU SDA, UU Migas, UU Kelistrikan), adanya impor gula dan beras dan sebagainya dituding banyak pihak sebagai kebijakan yang sangat kolutif karena di belakangnya ada praktik korupsi.

Melihat semua fakta di atas, tentu tidak salah jika masyarakat sampai pada sebuah kesimpulan, mafioso peradilan betul-betul telah mengakar dan meruntuhkan sistem peradilan di negeri ini. Akibatnya, jalannya roda pemerintahan terganggu, karena para birokrat tidak bekerja secara optimal. Efek dominonya, masyarakat semakin menderita dan menggantang asap keadilan.

Pertanyaannya, akankah umat Islam yang menjadi mayoritas dan sekaligus “penentu hitam-putihnya negeri ini” tetap mempertahankan produk hukum dan peradilan dari sistem sekular yang terbukti bobrok seperti saat ini? Tentu tidak! Jika demikian, apa solusinya?

Solusi Islam

Sebagai sebuah sistem hidup yang paripurna, yang berasal dari sang Pencipta yang Mahaseperuna, Allah ‘Azza wa Jalla, Islam memiliki sejumlah cara yang sangat gamblang untuk menanggulangi berbagai masalah manusia, khususnya dalam upaya mencegah terjadinya kasus korupsi, suap-menyuap dan maraknya mafia peradilan. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Sistem penggajian yang layak.

Sebagai manusia biasa, para pejabat/birokrat tentu memerlukan uang untuk mencukupi kebutuhan diri dan keluarganya. Untuk itu, agar bisa bekerja dengan tenang dan tak tergoda untuk berbuat curang, mereka harus diberi gaji dan fasilitas yang layak. Rasul saw. bersabda:

«مَنْ وَلِيَ لَنَا عَمَلاً، فَلَمْ يَكُنْ لَهُ زَوْجَةٌ فَلْيَتَزَوَّجْ، أَوْ خَادِمًا فَلْيَتَّخِذْ خَادِمًا، أَوْ مَسْكَنًا فَلْيَتَّخِذْ مَسْكَنًا، أَوْ دَابَّةً فَلْيَتَّخِذْ دَابَّةً، فَمَنْ أَصَابَ شَيْئًا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ غَالٌّ، أَوْ سَارِقٌ»

Siapa yang bekerja untukku dalam keadaan tidak beristri, hendaklah menikah; atau tidak memiliki pelayan, hendaklah mengambil pelayan; atau tidak mempunyai rumah, hendaklah mengambil rumah; atau tidak mempunyai tunggangan (kendaraan), hendaknya mengambil kendaraan. Siapa saja yang mengambil selain itu, dia curang atau pencuri! (HR Abu Dawud).

2. Larangan suap dan menerima hadiah.

Tentang suap, Rasulullah saw. bersabda:

 

Laknat Allah atas penyuap dan penerima suap (HR Abu Dawud).

Tentang larangan menerima hadiah, Rasul saw. juga bersabda:

« مَا بَالُ الْعَامِلِ نَبْعَثُهُ فَيَأْتِي يَقُولُ هَذَا لَكَ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي فَهَلاَّ جَلَسَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ فَيَنْظُرُ أَيُهْدَى لَهُ أَمْ لاَ »

Tidak pantas seorang petugas yang kami utus datang dan berkata, “Ini untuk Anda, sementara ini adalah hadiah yang diberikan untuk saya.” Mengapa ia tidak duduk-duduk saja di rumah bapak dan ibunya, lalu memperhatikan, apakah ia akan mendapatkan hadiah atau tidak?! (HR al-Bukhari, Muslim, Ahmad dan Abu Dawud).

3. Penghitungan kekayaan pejabat.

Agar tidak berbuat curang, Khalifah Umar ra. selalu menghitung kekayaan para pejabatnya di awal dan di akhir jabatannya. Jika terdapat kenaikan tidak wajar, Khalifah Umar ra. akan memaksa mereka untuk menyerahkan kelebihan itu kepada negara (Lihat: Thabaqât Ibn Sa’ad, Târîkh al-Khulafâ’ as-Suyuthi).

4. Teladan dari pemimpin.

Dengan keteladan pemimpin, tindakan atas penyimpangan akan terdeteksi secara dini. Penyidikan dan penindakan juga tidak sulit dilakukan. Khalifah Umar ra., misalnya, pernah menyita sendiri seekor unta gemuk milik putranya, Abdullah bin Umar ra. Pasalnya, unta tersebut kedapatan ada bersama beberapa unta lain yang digembalakan di padang rumput milik negara. Khalifah Umar ra. menilai hal tersebut sebagai penyalahgunaan fasilitas negara.

5. Hukuman setimpal.

Pada galibnya orang akan takut menerima risiko yang akan mencelakakan dirinya. Hukuman dalam Islam memang berfungsi sebagai zawâjir (pencegah). Dengan hukuman setimpal atas koruptor, misalnya, pejabat akan berpikir seribu kali untuk melakukan korupsi. Dalam hukum Islam, korupsi merupakan kejahatan yang pelakunya wajib dikenai hukuman ta’zîr. Bentuknya bisa berupa hukuman tasyhîr (dipermalukan di depan umum), hukuman kurungan, dll; tentu disertai dengan penyitaan hasil korupsi oleh negara. Khalifah Umar bin Abdul Aziz, misalnya, pernah menetapkan sanksi hukuman cambuk dan penahanan dalam waktu lama terhadap koruptor (Ibn Abi Syaibah, Mushannaf Ibn Abi Syaibah, V/528; Mushannaf Abd ar-Razaq, X/209). Adapun Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. Pernah menyita seluruh harta pejabatnya yang dicurigai sebagai hasil korupsi.

6. Pengawasan masyarakat.

Masyarakat jelas turut berperan dalam menyuburkan atau menghilangkan korupsi. Jika di dalam masyarakat tumbuh budaya anti korupsi, insya Allah masyarakat akan berperan efektif dalam mengawasi setiap tindakan para birokrat sehingga korupsi bisa dicegah.

7. Pengendalian diri dengan iman yang teguh.

Korupsi atau tidak, pada akhirnya memang berpulang pada kekuatan iman dan kontrol diri para birokrat itu sendiri. Dengan iman yang teguh, ia akan merasa selalu diawasi Allah SWT dan selalu takut untuk melakukan penyelewengan yang akan membawanya pada azab neraka.

Wahai kaum Muslim:

Semua langkah dan cara di atas memang hanya mungkin diterapkan dalam sistem Islam, mustahil bisa dilaksanakan dalam sistem sekular yang bobrok ini. Karena itu, perjuangan untuk menegakkan sistem Islam dalam wujud tegaknya syariah Islam secara total dalam negara (yakni Khilafah Islam) tidak boleh berhenti. Selain karena ia merupakan kewajiban dari Allah SWT atas umat Islam, juga karena hanya syariah Islamlah—yang diterapkan dalam institusi Khilafah—yang menjadi sumber kemaslahatan dan rahmat bagi kaum Muslim, bahkan bagi umat manusia seluruhnya. Allah SWT berfirman:

[وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ]

Tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam (QS al-Anbiya’ ]21]: 107).

KOMENTAR AL-ISLAM:

Presiden Didesak Bentuk Tim Berantas Mafia Hukum (Republika, 10/10/2009).

Terapkan dulu hukum Islam secara total dalam negara, pasti mafia hukum akan bisa dibabat habis!

Sumber: http://hizbut-tahrir.or.id

Iklan

Posted in Buletin | Leave a Comment »

Dimanakah engkau wahai umat Islam!

Posted by langgeng pada 17 Oktober 2009

Posted in Berita | Leave a Comment »

Kedatangan Imam Mahdi dan Pendirian Khilafah

Posted by langgeng pada 3 Oktober 2009


Kedatangan Imam Mahdi adalah salah satu tanda-tanda utama Hari Kiamat. Tidak seperti kemunculannya, tanda-tanda kecil akan memberi sinyal bahwa kiamat sudah dekat dan orang yang beriman harus memastikan bahwa mereka siap untuk bertahan dengan cobaan dan kesengsaraan (fitnah). Al-Mahdi akan datang di saat umat Islam terpecah belah dan di mana tirani dan keburukan akan menjadi keadaan yang merata. Situasi akan sangat buruk sehingga orang akan berharap dia tidak terlahir atau bahwa jika seseorang meninggal, ia akan berharap bahwa itu adalah dia.

Cerita tentang al-Mahdi, seperti diceritakan dalam sunnah, adalah cerita tentang harapan di mana hasil perjuangan antara Haq dan Batil, maka orang-orang yang beriman akan memperoleh kemenangan atas orang-orang kafir, di mana bumi dipenuhi dengan kedamaian dan keadilan karena aturan yang adil dari al-Mahdi. Hal ini diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudri (ra) bahwa Rasulullah (Sallallahu alaihi wassalam) berkata: “Nanti ummatku pada akhir zaman, al-Mahdi akan muncul.
Allah akan memberikan kepadanya hujan, bumi akan mengeluarkan buah-buahnya, ia akan memberikan banyak harta, ternak akan meningkat dan umat akan menjadi hebat. “(HR Al-Hakim dalam Mustadrak, 4/557-558). Kisah al-Mahdi adalah salah satu yang mendorong kaum beriman untuk berusaha bagi kesatuan umat Islam dan keadilan Islam melalui pembentukan Khilafah dan penerapan Syari’ah sebagai orang yang beriman tahu bahwa suatu hari seluruh dunia akan tercerahkan oleh cahaya Islam dan kepalsuan akan lenyap. Tapi sampai hari itu datang, dia harus mengambil anjuran dari bisharah (kabar gembira) dari Rasulullah (Sallallahu alaihi wassalam) dan berjuang dan bekerja untuk Islam mengikuti Sunnah Rasulullah (Sallallahu alaihi wassalam).

Jadi kadang-kadang sedih mendengar bahwa beberapa temuan dalam kisah al-Mahdi alasan dan pembenaran untuk tidak bertindak, mengambil pandangan fatalistik bahwa kita sebagai umat tidak bisa, dan bahkan tidak boleh, melakukan apa-apa tentang keadaan yang rusak sampai al-Mahdi muncul di akhir zaman dan menegakkan Khilafah. Jelas, ini bukan pesan yang diambil para sahabat (semoga Allah ridho dengan mereka) ketika mereka mendengar cerita langsung dari lisan Rasulullah (Sallallahu alaihi wassalam). Mereka mendengar cerita ini dan mereka mengambil pelajarannya dan mereka bekerja tanpa kenal lelah, yang pertama kali di Makkah untuk menegakkan dar al-Islam dan kemudian setelah berdirinya di Madinah untuk mengkonsolidasikan dan memperluas pengaruh Negara Islam. Setelah kematian al-Mustafa (Sallallahu alaihi wassalam) Shabat ditunjuk sebagai Khalifah (pengganti) memperluas kekuasaan Islam bahkan lebih jauh hingga cahaya Islam telah menyebar ke sebagian besar dunia. Jadi, bagaimana bisa bahwa kedatangan Imam Mahdi telah menjadi alasan bagi sikap pasrah untuk menerima keadaan atas realitas yang rusak? Memang, jika kita menganalisa laporan otentik tentang kedatangan al-Mahdi dari kedua kenabian dan sudut pandang hukum kita dapat menyimpulkan sebagai berikut:

Khilafah tidak akan ditegakkan oleh al-Mahdi tetapi dia akan datang menjadi Khalifah setelah kematian Khalifah sebelumnya. Dengan kata lain Khilafah akan ditegakkan oleh Muslim sebelum kedatangan al-Mahdi. Ini dengan jelas dapat dilihat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah (ra) bahwa Rasulullah (Sallallahu alaihi wassalam) berkata:

“Ketidaksepakatan akan terjadi pada kematian seorang khalifah dan seorang laki-laki dari penduduk Madinah akan datang terbang ke Mekah.
Beberapa orang Mekah akan datang kepadanya, membawa dia menentang kehendak-Nya dan memberikan bay’ah kepadanya antara Rukn dan Maqam.
Pasukan ekspedisi kemudian akan dikirim melawan dia dari Suriah namun akan tertelan di padang pasir antara Mekah dan Madinah.
Ketika orang-orang melihat bahwa, Allah takut akan orang-orang Syria dan Irak orang-orang terbaik akan datang kepadanya dan bersumpah setia kepadanya di antara Penjuru dan Maqam.
Lalu akan muncul seorang pria dari Quraisy yang milik paman ibu Kalb dan mengirim terhadap mereka pasukan ekspedisi yang akan diatasi oleh mereka, dan itu adalah ekspedisi Kalb.
Ia akan membagi harta, dan akan memerintah rakyat dengan Sunnah Nabi mereka (saw) dan membangun Islam di Bumi.
Dia akan tetap tujuh tahun … ”
(Diriwayatkan oleh at-Tabrani dalam al-Awsat. Berdasarkan Ibnu Hajar dalam Majma ‘az-Zawaid penyiar narasi at-Tabrani’s yang sehat dan autentik.)

Perhatikan hadis di atas yang menyatakan bahwa sengketa akan terjadi pada kematian Khalifah dan akibatnya seorang laki-laki akan muncul setelah diberikan bai’at sebagai Khalifah dan menyatakan dirinya sebagai Imam Mahdi. Jadi, jelas al-Mahdi tidak akan menegakkan Khilafah Rashidah yang akan kembali seperti yang diramalkan dalam hadits, dan juga dia tidak akan menjadi Khalifah pertama setelah penghancuran Khilafah dan ia juga tidak akan menjadi Khalifah terakhir. Sebaliknya, ia hanya akan menjadi Khalifah yang akan menegakkan keadilan Islam di muka bumi.Ini adalah dari sudut pandang cerita tentang kisah yang diramalkan oleh Nabi (Sallallahu alaihi wassalam).

Dari perspektif hukum syar’i atau hadis yang detail munculnya Imam Mahdi tidak menetapkan aturan Syari’ah baru untuk realitas umat Islam hari ini, karena terkait dengan situasi yang berbeda ketika Khilafah eksis. Hukum syar’i atau aturan ilahi yang datang untuk manaat (realitas yang berhubungan dengan hukum) yang memerlukan penguasa, yang merupakan kenyataan dan kita saat ini bukan akhir zaman yang akan ditandai dengan tanda-tanda utama hari kebangkitan. Hukum syar’i dasarnya adalah permintaan untuk melakukan tindakan atau menahan diri dari hal itu apakah dengan cara kewajiban (wujoob), larangan (tahreem), dorongan (nadb) atau putus asa (karaaha). Meskipun hadis-hadis tentang Imam Mahdi tidak meminta kewajiban untuk menegakkan Khilafah, karena mereka sebagian besar ikhbari (informatif) di alam dan sebagai Khilafah sudah ada ketika al-Mahdi datang (yang merupakan alasan mengapa kita katakan kenyataan ini tidak dapat diterapkan), tetapi mereka tentu saja TIDAK mengatakan bahwa itu tidak wajib berusaha untuk sebuah Khilafah ketika tidak ada. Memang aturan-aturan Syari’ah yang diterapkan pada zaman Nabi (Sallallahu alaihi wassalam) berlaku sampai akhir zaman selama berkaitan dengan realitas di mana mereka datang. Jadi tidak hanya kaum Muslim harus mematuhi aturan tersebut (Syari’ah), namun juga al-Mahdi dan begitu pula ‘Isa (alaihi as salam), yang datang bukan sebagai Nabi tetapi sebagai pengikut Syari’ah Muhammad (Sallallahu alaihi wassalam). Jadi jika kedatangan seorang nabi besar seperti Isa (as), setelah kenabian Muhammad (Sallallahu alaihi wassalam), tidak dapat menangguhkan aturan Syariah, sehingga bagaimana kedatangan al-Mahdi juga menangguhkan aturan Syariah?

Adapun hukum syar’i tentang apa yang harus dilakukan ketika Khilafah tidak ada, seperti yang kita lihat dalam situasi kita saat ini, kita perlu merujuk pada hadis Rasulullah (Sallallahu alaihi wassalam) seperti yang juga ditujukan pada manaat (realitas ):

“Barang siapa mati tanpa bay’ah di lehernya, maka kematiannya adalah kematian Jahiliyyah.”
(HR Muslim dalam Sahih).

Hadits ini menjelaskan makna tersirat (mafhum) bahwa tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk hidup tanpa kehadiran seorang Khalifah seperti celaan orang yang mati tanpa kehadirannya. Akibatnya, hal itu menjadi wajib bagi seorang muslim untuk bekerja atau berusaha demi kehadiran seorang Khalifah yang akan memerintah dengan adil dan bekerja untuk perubahan, hanya melalui dakwah dan perjuangan politik, yang Ruwaibidah yang hina rulers. Ini adalah realitas kita saat ini dan bekerja untuk mendirikan Khilafah adalah masalah penting yang tidak bisa diabaikan oleh umat Islam.

Sementara kedatangan al-Mahdi adalah sosok penting dalam buku-buku hadits, hampir seolah-olah telah mengambil pribadi sebagai klausul “get-out” (jalan-keluar) untuk tidak bekerja mengembalikan Khilafah dan pemberian BAY’AH ke Khalifah berikutnya. Meskipun hanya menyebutkan Khilafah pada masa al-Mahdi dalam beberapa alasan umat Islam dari kewajiban mereka menghapus rezim yang busuk hari ini.Ya, akan ada lagi Khilafah lnsya Allah, tetapi apakah kita semua akan menjadi ummat yang hidup dalam kegelapan dan tidak melakukan apa pun untuk mengubah situasi itu? Dan menunggu Allah SWT membawa orang-orang yang mencintainya dan Dia mencintainya.

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (TQS. Al-Maidah[5]: 54)

Sumber: http://www.khilafah.eu/kmag/article/the-coming-of-al-mahdi-and-the-establishment-of-the-khilafah

 


 

Posted in Aqidah | Leave a Comment »

Vatikan Tawarkan Prinsip Keuangan Islam

Posted by langgeng pada 18 September 2009

ROMA, ITALI, UNI EROPA – Vatikan menawarkan prinsip-prinsip keuangan Islam kepada bank-bank Barat sebagai sebuah solusi bagi krisis ekonomi di seluruh dunia.

Surat kabar Vatikan, L’Osservatore Romano, melaporkan bahwa sistem perbankan Islam dapat membantu mengatasi krisis global, media Turki melaporkan.

Vatikan mengatakan bank-bank harus melihat pada aturan-aturan etika keuangan Islam untuk mengembalikan kepercayaan diantara klien mereka pada saat krisis ekonomi global.

“Prinsip-prinsip etis dimana keuangan Islam didasarkan dapat membawa bank-bank lebih dekat dengan klien mereka dan kepada semangat sejati yang seharusnya menandai setiap layanan keuangan,” kata surat kabar resmi Vatikan Osservatore Romano dalam sebuah artikel pada edisi terbaru kemarin.

Pengarang Loretta Napoleoni dan seorang ahli strategi atas fixed income Abaxbank Spa, Claudia Sègre, mengatakan dalam artikelnya bahwa “bank-bank Barat bisa menggunakan alat-alat seperti obligasi Islam, yang dikenal sebagai sukuk, sebagai jaminan”. Sukuk dapat digunakan untuk mendanai “industri mobil atau Olimpiade mendatang di London,” kata mereka.

Mereka juga mengatakan bahwa keuntungan saham, yang diperoleh dari sukuk, mungkin menjadi sebuah alternatif untuk bunga. Mereka menekankan bahwa sistem sukuk bisa membantu sektor otomotif dan mendukung investasi di bidang infrastruktur.

Sistem sukuk yang Islami itu adalah mirip dengan bonos dari sistem kapitalis. Tapi dalam sukuk, uang diinvestasikan pada proyek-proyek yang nyata dan pembagian keuntungannya didistribusikan kepada klien, dan bukan bunga yang diperoleh.

Paus Benedict XVI pada pidato tanggal 7 Oktober 2008 bercermin pada kehancuran pasar keuangan dengan mengatakan bahwa “uang yang hilang, itu bukanlah apa-apa” dan menyimpulkan bahwa “satu-satunya realitas yang tetap adalah firman Tuhan.”

Vatikan telah menaruh perhatian pada krisis keuangan global dan menurunkan artikel-artikelnya dalam surat kabar resmi yang mengkritik model pasar bebas karena “tumbuh terlalu banyak dan buruk dalam dua dasawarsa terakhir.”

Editor Osservatore editor, Giovanni Maria Vian, mengatakan bahwa “agama-agama besar selalu punya perhatian yang sama bagi dimensi kemanusiaan atas ekonomi,”  kata Corriere della Sera melaporkan hari ini.

Source: http://tyo.ca/islambank.community/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=4094

Posted in Ekonomi | Leave a Comment »

Hisab Astronomis di Dalam Masalah Puasa

Posted by langgeng pada 15 September 2009

بسم الله الرحمن الرحيم

Pertanyaan:

Bolehkah berargumentasi menggunakan hisab astronomis terhadap waktu-waktu puasa dan berbuka sebagaimana berargumentasi menggunakan hisab astronomis terhadap masalah waktu-waktu shalat?

 

Jawab:

  1. Allah SWT menuntut kita untuk beribadah menyembah-Nya sebagaimana yang diminta oleh-Nya. Jika kita beribadah dengan selain yang diminta maka kita telah berbuat buruk meskipun kita beranggapan kita sedang berbuat baik.
  2. Allah SWT meminta kita untuk berpuasa dan berbuka karena rukyat hilal. Allah SWT menjadikan rukyat sebagai sebab puasa dan berbuka

«صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ»

Berpuasalah kamu karena melihat hilal (ru’yat al-hilal) dan berbukalah kamu karena melihatnya

 

Jika kita melihat hilal Ramadhan maka kita berpuasa dan jika kita melihat hilal Syabab kita pun berbuka.

  1. Jika kita tidak melihat hilal syawal karena misalnya tertutup mendung, maka kita genapkan puasa hingga meskipun hilal itu secara riil sudah ada; akan tetapi kita tidak melihatnya dikarenakan adanya sesuatu yang menghalangi rukyat itu. Artinya kita tidak berpuasa dan berbuka karena datangnya awal bulan secara hakiki. Hadis yang ada secara jelas menyatakan hal itu:

«فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوْا عِدَّةَ شَعْبَانَ»

Jika kalian terhalang mendung (untuk melihat hilal) maka genapkanlah hitungan Sya’ban

 

  1. Allah SWT tidak membebani kita untuk beribadah menyembahnya dengan selain yang diminta. Misalnya, seandainya hisab mengatakan secara pasti bahwa besok Ramadhan –dan sekarang hisab astronomis bisa menetapkan posisi-posisi bulan sejak kelahiran bulan sampai menjadi bulan purnama kemudian mengecil kembali dengan hitungan dalam detik- tetapi kita tidak melihat hilal karena misalnya tertutup mendung, maka orang yang berpuasa berdosa, perlu diketahui bahwa Ramadhan secara hakiki telah mulai. Dia berdosa karena hilal tidak terlihat (tetapi ia berpuasa). Yang wajib dalam kondisi tersebut adalah menggenapkan Sya’ban 30 hari kemudian esoknya baru berpuasa. Maka orang yang berpuasa berdasarkan hakikat Ramadhan dalam kondisi ini dia berdosa karena dia menyalahi yang diminta. Dan sebaliknya orang yang menggenapkan hitungan Sya’ban sehingga ia tidak berpuasa meski hilal secara riil sudah ada akan tetapi tertutup mendung sehingga tidak terlihat, maka ia mendapatkan pahala karena mengikuti hadits.
  2. Dari sini jelaslah bahwa kita tidak boleh berpuasa dan berbuka karena hakikat bulan, tetapi karena melihat hilal (ru’yat hilal). Maka jika kita melihat hilal kita berpuasa dan jika kita tidak melihatnya maka kita tidak berpuasa hingga meskipun bulan secara riil menurut hisab telah mulai.
  3. Jika datang beberapa orang saksi yang menyampaikan kesaksian mereka melihat (ru’yat) maka perlakuan terhadap mereka itu seperti perlakuan terhadap suatu kesaksian. Jika orang yang bersaksi itu seorang muslim dan bukan orang fasik maka kesaksiannya diterima. Jika tampak bahwa orang yang memberikan kesaksian itu non muslim dan tidak adil yaitu dia seorang yang fasik maka kesaksiannya tidak diterima.
  4. Penetapan kefasikan seorang saksi dilakukan dengan bukti-bukti syar’iy, bukan dengan hisab astronomis. Yaitu hisab astronomis tidak bisa dijadikan hujah atasnya. Jadi tidak bisa Anda katakan bahwa kelahiran bulan baru beberapa saat yang lalu sehingga tidak (mungkin) terlihat …– Sudah diketahui bersama bahwa ada perbedaan diantara ahli astronomis tentang berapa jam setelah kelahiran bulan hilal mungkin dilihat–. Jadi argumentasi hisab astronomis tidak bisa digunakan terhadap orang yang memberikan kesaksian itu. Akan tetapi orang tersebut bisa diajak diskusi dan ditegaskan penglihatannya dan dia ditanya dimana hilal itu, adakah orang lain yang juga melihat, begitulah. Kemudian kesaksiannya diterima atau ditolak berdasarkan asas seperti itu.
  5. Siapa yang mendalami nas-nas yang dinyatakan dalam masalah puasa, ia akan mendapati bahwa nas-nas itu berbeda dengan nas-nas yang dinyatakan dalam masalah shalat. Puasa dan berbuka telah dikaitkan dengan rukyat (melihat hilal).

«
صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ »

Berpuasalah kami karena melihat hilal (ru’yat al-hilal) dan berbukalah kamu karena melihatnya

 

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu
(QS al-Baqarah [2]:185)

 

Jadi rukyat adalah hukum.

Sedangkan dalam masalah shalat, nas-nas syara’ telah mengaitkan shalat dengan waktu.

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ …

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir(QS al-Isra’ [17]: 78)

 

«
إِذَا زَالَتْ الشَّمْسُ فَصَلُّوْا»

Jika matahari telah tergelincir maka shalatlah kalian

 

Jadi shalat disandarkan pada waktu. Maka dengan wasilah apapun Anda bisa menetapkan waktu itu, Anda boleh menunaikan shalat. Jika Anda melihat matahari untuk mengetahui waktu tergelincirnya atau Anda melihat bayangan untuk mengetahui bayangan sesuatu itu sama atau lebih panjang sebagaimana yang dinyatakan didalam hadis-hadis tentang waktu-waktu shalat. Jika Anda melakukan itu dan Anda bisa menetapkan waktu shalat, maka shalat Anda sah. Jika Anda tidak melakukannya tetapi Anda menggunakan hisab astronomis sehingga Anda mengetahui waktu tergelincir matahari adalah jam sekian lalu Anda melihat arloji Anda tanpa keluar melihat matahari atau bayangan benda, maka shalat Anda juga sah. Artinya, waktu itu bisa dicapai (ditetapkan) menggunakan wasilah apapun. Kenapa? Karena Allah SWT menuntut Anda agar menunaikan shalat karena masuknya waktu dan menyerahkan kepada Anda untuk menetapkan masuknya waktu itu tanpa ditentukan tatacara penetapannya. Sedangkan puasa, Anda dituntut untuk berpuasa dengan rukyat dan untuk Anda telah ditentukan sebab, bahkan lebih dari itu nas berkata kepada Anda “Jika rukyat tertutup mendung sehingga Anda tidak bisa melihat hilal, maka jangan berpuasa hingga meskipun Hilal itu ada di balik mendung dan Anda merasa yakin eksistensi hilal itu menggunakan hisab astronomis.”

 

  1. Sesungguhnya Allah SWT adalah pencipta alam semesta ini. Dia lah yang mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui manusia. Pengetahuan tentang pergerakan benda-benda langit dan detil-detilnya adalah karunia Allah SWT kepada manusia. Akan tetapi Allah SWT tidak menuntut kita agar bersandar kepada hisab astronomis untuk berpuasa, akan tetapi justru menuntut agar kita bersandar kepada rukyat. Maka kita beribadah menyembah Allah SWT sebagaimana yang dituntut dan kita tidak menyembah Allah SWT dengan apapun yang tidak dituntut dari kita.

 

Demikianlah, hanya rukyat sajalah hukum dalam masalah puasa dan berbuka, bukan hisab astronomis. Berdasarkan hal itu, kami katakan ketidakbolehan hisab astronomis dijadikan sandaran dalam masalah puasa dan berbuka. Akan tetapi masalah puasa dan berbuka itu hanya berdasarkan rukyat saja karena rukyat itulah yang dinyatakan di dalam nas-nas yang ada dalam masalah tersebut.

Posted in Jawab Soal | Leave a Comment »

Khutbah Idul Fithri 1430 H

Posted by langgeng pada 11 September 2009


Raih Takwa, Songsong Tegaknya

Syariah dan Khilafah

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله أكبر 3× الله أكبر 3×

اللهُ أَكْبَرْ كَبِيْراً وَالْحَمْدَ ِللهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّأَصِيْلاً، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلَهَ إلاَّ الله هُوَ الله أَكْبَر، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ هَذَ الْيَوْمِ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ وَحَرَّمَ عَلَيْهِمْ فِيْهِ الصِّياَمَ، وَنَزَّلَ الْقُرْآنَ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّناَتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانَ خَيْرَ نِعَمٍ، نَحْمَدُهُ عَلَى كَمَالِ اِحْسَانِهِ وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْراَمِ.

أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهِ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وهو يُحْيِ وَيُمِيْتُ وَرَبٌّ حَيٌّ لا يموت وَهُوَ بِكُلِّ شَيْئٍ عَلِيْمٌ. وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَيْرَ اْلأَناَمِ.

أُصَلِّيْ وَاُسَلِّمُ عَلَى الْقَائِدِ وَالْقُدْوَةِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، وَمَنْ دَعاَ اِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ وَمَنْ جاَهَدَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ حَقًّ جِهاَدِهِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقاَتِهِ، وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ..

 

Allâhu Akbar 3X wa lil-Lâh al-hamd

    Segala puji hanya milik Allah SWT, Pencipta, Pemilik dan Pengatur seluruh alam semesta. Dialah Pemberi nikmat kepada seluruh hamba-Nya, termasuk kita semua. Maka sudah sepantasnya kita memuji keagungan-Nya dan bersyukur atas seluruh nikmat-Nya yang diberikan kepada kita.

    Kita bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah, selain Allah SWT. Kita juga bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah, panutan dan teladan bagi seluruh umat manusia. Shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada beliau SAW, keluarga, kerabat dan para sahabat beliau, serta seluruh kaum Muslim yang secara istiqamah menjalankan dan mendakwahkan ajarannya. Amiin.

 

Allâhu Akbar 3X wa lil-Lâh al-hamd,

Ma’âsyira al-Muslimîn rahimakumul-Lâh

    Pagi ini kita berkumpul bersama untuk memenuhi panggilan Allah SWT dan Rasul-Nya. Di hari bahagia ini, kaum Muslim di seluruh dunia menggemakan kalimat takbîr, tahlîl dan tahmîd. Semua kalimat thayyibah itu diucapkan sebagai bagian dari ketundukan kepada Allah SWT dan ungkapan rasa syukur kepada-Nya. Dialah yang telah memberikan hidayah, kekuatan, dan kesabaran kepada kita hingga kita mampu menyelesaikan shaum Ramadhan kita dengan sebaik-baiknya. Itulah yang membuat kita menjadi bahagia.

    Kebahagiaan yang kita rasakan saat ini merupakan salah satu dari kebahagiaan yang telah dijanjikan Rasulullah SAW bagi orang-orang yang berpuasa:

«لِلصَّائِمِ فَرْحَتاَنِ يَفْرَحُهُماَ إِذاَ أَفْطَرَ فَرَحَ، وَإِذاَ لَقِي رَبَّهُ فَرَحَ بِصَوْمِهِ»

Bagi seorang yang berpuasa diberikan dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan saat berbuka (termasuk saat idul fitri) dan kebahagiaan saat bertemu dengan Rabb-nya dengan puasanya (HR al-Bukhari, Muslim, dan al-Tirmidzi dari Abu Hurairah).

    

    Kita juga berbahagia karena kita memiliki harapan dengan amal yang kita kerjakan. Dengan selesainya ibadah puasa, kita berharap agar dosa-dosa kita diampuni, diberikan pahala yang besar, dibebaskan dari api neraka, dan dimasukkan ke dalam surga-Nya yang penuh kenikmatan, sebagaimana dijanjikan Allah SWT dan rasul-Nya.

    Kita juga berbahagia menyaksikan kaum Muslim mengagungkan asma’ Allah, berbondong-bondong menuju tempat shalat, menunaikan shalat berjamaah, berbaris rapi dan bersimpuh bersama mendengarkan khutbah. Realitas ini seolah menunjukkan kepada kita bahwa inilah jati diri umat Islam yang sebenarnya.

 

Ma’âsyira al-Muslimîn rahimakumul-Lâh,

    Kendati jiwa kita diliputi suasana bahagia, namun kita tidak boleh melupakan nasib saudara-saudara kita di berbagai negara yang sangat menyedihkan. Di Irak dan Afghanistan, nasib saudara-saudara kita juga masih belum banyak berubah. Mereka hidup di bawah cengkeraman penjajahan negara imperialis dan agresor, Amerika Serikat. Sementara para penguasa di kedua negeri tersebut tak lebih dari antek yang mengabdi untuk negara penjajah.

    Di Palestina nasib kaum Muslim tak kalah mengenaskan. Negeri mereka, yang sesungguhnya menjadi milik seluruh kaum Muslim, dirampas kaum Yahudi Israel. Sebagian mereka terusir dari negerinya, hidup menderita dan terlunta-lunta, bahkan yang lebih menyedihkan adalah nasib mereka yang tinggal di kamp-kamp pengungsian. Tidak ada satu pun negeri di sekitar mereka yang mau mengakui mereka sebagai warganya. Mereka tidak bisa ke mana-mana, karena tidak memiliki identitas kewarganegaraan. Sedangkan yang masih tersisa, keadaan mereka selalu terancam oleh kebiadaban bangsa terlaknat itu. Mereka harus menghadapi negara zionis sendirian dengan senjata seadanya. Sementara para penguasa di negeri-negeri Muslim lainnya hanya berdiam diri. Bahkan di antara mereka ada yang bersekutu dengan musuh Allah itu dalam membantai saudara-saudara mereka.

    Keadaan memilukan dialami saudara-saudara kita di China. Di negara Komunis itu, umat Islam dari suku Uighur, di Xinjiang —yang dikenal dalam sejarah Islam sebagai Turkistan Timur— menjadi korban kebrutalan suku Han, yang didukung penuh oleh rezim Komunis, China. Sementara di Turki, para pejuang syariah dan khilafah harus menghadapi sikap represif penguasa sekular. Hingga kini, ratusan aktivis Hizbut Tahrir Turki ditahan dan dipenjara tanpa alasan.

    Juga tidak boleh dilupakan isu terorisme yang kembali mencuat di negeri ini. Pihak-pihak yang membenci Islam berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengaitkan aksi terorisme dengan perjuangan menegakkan syariah. Padahal jelas, antara terorisme dan dakwah tidak ada kaitannya. Bahkan ada yang ingin membungkam dakwah dengan memprovokasi penguasa agar menerapkan kembali undang-undang represif seperti pada rezim otoriter sebelumnya.

    Nasib yang dialami saudara-saudara kita di Pattani Thailand, Moro Philipina Selatan, Kashmir, Rohingya di Miyanmar, Pakistan, Banglades, dan lain-lain kian memperpanjang daftar penderitaan umat Islam. Karena itu, wajar jika kita katakan, bahwa kita merayakan Hari Kemenangan ini dalam Kekalahan. Karenanya, mari kita berdoa semoga kekalahan demi kekalahan yang dialami umat Islam ini segera berakhir, dan digantikan dengan kemenangan demi kemenangan sebagaimana sejarah emas umat Islam di masa lalu. Amin, ya Mujib al-sâilin.

 

Allâhu Akbar 3X wa lil-Lâh al-hamd,

    Meskipun realitas kaum Muslim kini sedang terpuruk, namun kita tidak boleh merasa pesimis dan putus asa. Sebaliknya, kita harus yakin bahwa kaum Muslim akan kembali tampil menjadi pemimpin dunia. Keyakinan ini bukan mimpi, apalagi hanya ilusi. Namun ini didasarkan pada janji Allah SWT dan rasul-Nya yang pasti ditepati. Janji Allah SWT ini sebagaimana Dia nyatakan dalam firman-Nya:

[وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
[

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik (QS al-Nur [24]: 55).

 

    Dalam ayat ini, ada tiga perkara yang dijanjikan kepada kaum Muslim. Pertama, mereka akan kembali diberikan kekhilafahan sebagaimana pendahulu mereka. Ini artinya, mereka akan kembali berkuasa dan mempin dunia dengan Khilafah. Imam Ibnu Katsir dalam Tafsîr al-Qurân al-‘Azhîm menjelaskan bahwa
kata layastakhlifannahum fî al-ardh berarti menjadikan mereka sebagai khalifah-khalifah di muka bumi. Yakni, menjadi para pemimpin dan wali bagi umat manusia. Imam al-Syaukani menegaskan, bahwa janji ini berlaku umum untuk seluruh umat ini.

Kedua, posisi Islam akan diteguhkan bagi kaum Muslim. Ketika Khilafah belum tegak, banyak hukum Islam yang ditelantarkan, ditolak bahkan dilecehkan. Dengan tegaknya Khilafah, semua hukum Islam bisa diterapkan. Khilafah juga menjadi penjaga agama dari setiap bentuk pelanggaran, pengingkaran dan penistaan. Maka Islam menjadi agama yang teguh dan kokoh di tengah-tengah kehidupan. Lebi dari itu, Khilafah akan mengemban Islam ke seluruh penjuru dunia, sehingga mengalahkan semua agama dan ideologi.

Di masa kekhilafahan Abu Bakar, ketika ada sekompok orang yang menolak membayar zakat, beliau segera bertindak tegas. Khalifah pertama itu berkata, “Demi Allah, aku pasti tidak akan memerangi orang-orang yang memisahkan shalat dengan zakat karena zakat itu hak harta. Demi Allah, andai mereka menolak membayar zakat unta dan kambing yang dulu mereka bayarkan kepada Rasulullah saw, aku pasti memerangi mereka karena penolakan tersebut” (HR al-Bukhari dan Ahmad).

Ketiga, perubahan nasib umat Islam, yang sebelumnya diliputi dengan ketakutan berubah menjadi aman sentosa. Ketika kaum Muslim hidup tanpa Khilafah, tidak ada institusi yang melindungi dan menjaga mereka. Akibatnya, musuh-musuh Islam dengan mudah merampas harta mereka, menghinakan kehormatan mereka dan menumpahkan darah mereka. Tegaknya Khilafah akan mengubah keadaan yang menyedihkan ini. Sebab, Khilafahlah institusi pelindung bagi kaum Muslim. Rasulullah SAW bersabda:

«إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ»

Sesungguhnya imam (kepala negara/khalifah) adalah perisai, tempat berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya (HR Muslim dari Abu Huraira).

    Di masa Khalifah al-Mu’tashim Billah, ketika seorang Muslimah jilbabnya ditarik oleh salah seorang Romawi, wanita itu meminta tolongan kepada sang Khalifah, maka beliau pun serta merta bangkit dan memimpin sendiri pasukannya untuk melakukan perhitungan terhadap pelecehan yang dilakukan oleh orang Romawi itu. Sesampainya di Amuria, beliau meminta agar orang Romawi pelaku kezaliman itu diserahkan untuk di-qishash. Saat penguasa Romawi menolaknya, beliau pun menyerang kota, menghancurkan benteng pertahanannya dan menerobos pintu-pintunya hingga kota itu pun jatuh ke tangannya.

Ma’âsyira al-Muslimîn rahimakumul-Lâh,

    Kita berharap, janji Allah SWT ini segera tiba. Terlebih saat ini kita sedang berada dalam masa mulk[an] jabriyyah (penguasa diktator), yaitu fase akhir dari bisyarah Nabawiyyah. Semenjak Khilafah Utmani dibubarkan Musthafa Kemal Pasha tahun 1924, umat Islam terpecah-belah dalam banyak negara kecil. Penguasa di seluruh negara itu memerintah bukan dengan hukum Allah. Mereka pun menjadi penguasa diktator dan otoriter, karena mempertahankan kepentingan diri, kroni dan majikan-majikan penjajah mereka.

Dalam hadits Hudzaifah disebutkan, setelah hidup di bawah penguasa mulk[an] jabriyyah, umat Islam akan kembali hidup dalam naungan Khilafah ‘alâ minhâj al-nubuwwah. Rasulullah saw bersabda:

«تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ»

    Di tengah-tengah kalian sedang berlangsung zaman kenabian. Selama Allah berkehendak, ia akan tetap ada. Kemudian Dia mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian ada zaman Khilafah yang mengikuti metode kenabian. Maka, dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada. Kemudian Dia pun mengakhirinya, jika Allah berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada para penguasa yang menggigit. Dengan kehendak Allah, ia pun tetap ada, kemudian Dia pun mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada para penguasa diktator. Dengan kehendak Allah, ia pun tetap ada, kemudian Dia pun mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti tuntunan kenabian. Setelah itu, beliau diam
(HR Ahmad dalam Musnad-nya, dimana semua perawinya adalah tsiqqat).

    

Bertolak dari Hadits ini, tegaknya Khilafah alâ minhâj al-nubuwwah yang kedua, insya Allah tidak akan lama lagi.

 

Allâhu Akbar 3X wa lil-Lâh al-hamd,

    Kami perlu tegaskan, bahwa kembalinya Khilafah merupakan nasrul-Lâh (pertolongan Allah) kepada kaum Muslim. Sedangkan al-nashr (pertolongan) itu mutlak milik Allah SWT. Karena itu, tidak ada seorang pun yang mampu mendatangkan atau menolaknya; memajukan atau menundanya. Bahkan Rasul sekalipun, tidak bisa menentukan sendiri kapan dan di mana pertolongan itu akan datang. Di antara buktinya adalah ketika kaum Muslim ditimpa cobaan amat dahsyat, lalu mereka bertanya kepada Rasulullah SAW kapankah pertolongan akan datang, beliau hanya menjawab:

[أَلا إِنَّ نَصْرَ اللّهِ قَرِيبٌ]

Ingatlah, sesungguhnya pertolongan itu amat dekat
(QS al-Baqarah [2]: 214).

    Kalau begitu, apakah kita harus diam dan hanya menunggu datangnya pertolongan tersebut? Jawabnya: Tidak! Sebab, Allah SWT Yang Maha Adil telah menetapkan syarat bagi hamba-Nya yang ingin mendapat pertolongan-Nya. Syaratnya, hamba itu harus bersedia menolong agama-Nya. Allah SWT berfirman:

[يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ]

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu (QS Muhammad [47]: 7).

    

Ungkapan ‘menolong Allah’ ini bukanlah bermakna hakiki. Sebab, Allah Swt tidak membutuhkan pertolongan hamba-Nya. Sebaliknya, Dialah yang berkuasa memberikan pertolongan. Bahkan tidak ada pertolongan kecuali berasal dari-Nya sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:

[وَمَا النَّصْرُ إِلاَّ مِنْ عِندِ اللّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ]

Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana
(QS Ali ‘Imran [3]: 126).

 

    Karena itu, pengertian ‘menolong Allah’, bukanlah bermakna hakiki. Sebagaimana dijelaskan Abu Hayyan al-Andalusi dalam Tafsîr al-Bahr al-Muhîth, bahwa ungkapan tersebut bermakna menolong agama-Nya. Menurut mufassir lainnya, seperti Ibnu al-Jauzi, al-Zamakhsyari, al-Baidhawi, dan Syihabuddin al-Alusi rahimahumul-Lâh selain menolong agama-Nya, juga menolong rasul-Nya.

    Secara lebih gamblang, Abdurrahman al-Sa’di menjelaskan bahwa amaliyyah praktis ‘menolong Allah’ adalah dengan melaksanakan agama-Nya, berdakwah kepada-Nya, dan berjihad melawan musuh-musuh-Nya, yang dilakukan dengan niat ikhlas karena-Nya. Ustadz Abdul Lathif ‘Uwaidhah dalam Haml al-Da’wah
Wâjibât wa Shifât menuturkan bahwa ungkapan ‘menolong Allah’ itu meliputi: mengimani syariah yang dibawa Rasul, berpegang teguh dengan hukum-hukum yang dibawa, mentaati perintah, dan menjauhi larangan-Nya.

    Dari semua penjelasan itu dapat disimpulkan, bahwa yang dimaksud dengan ‘menolong Allah’ itu adalah bertakwa kepada-Nya, yakni menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Lalu disempurnakan lagi dengan meninggalkan sebagian perkara mubah. Rasulullah saw bersabda:

«لاَ يَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنْ الْمُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَا لاَ بَأْسَ بِهِ حَذَرًا لِمَا بِهِ الْبَأْسُ»

Seorang hamba tidak sampai menjadi muttaqin hingga meninggalkan apa yang sebenarnya boleh karena khawatir terjatuh pada apa yang tidak boleh (HR al-Tirmidzi).

    

Takwa inilah yang menjadi syarat diturunkannya pertolongan Allah kepada hamba-Nya. Maka siapa pun yang bertakwa, dia sesungguhnya berhak mendapatkan pertolongan-Nya.

    

Ma’âsyira al-Muslimîn rahimakumul-Lâh,

Para sahabat Nabi radhiyal-Lâh ‘anhum adalah orang-orang yang telah mendapatkan pertolongan Allah SWT lantaran ketakwaan mereka. Bahwa takwa merupakan syarat diturunkannya pertolongan Allah telah menjadi pemahaman mereka. Umar bin al-Khaththab ra pernah berkata:

«فَإِنْ لَمْ نُغَِلَّبْهُمْ بِطَاعَتِنَا غَلَّبُوْنَا بِقُوَّتِهِمْ»

Jika kita tidak mengalahkan musuh kita dengan ketaatan kita (kepada Allah), nisacaya musuh akan mengalahkan kita dengan kekuatan mereka.

 

Salah satu panglima dalam Perang Mu’tah, Abdullah bin Rawahah juga pernah mengatakan:

«مَا نُقَاتِلُ النَّاسَ بِعَدَدٍ وَلاً قُوّةٍ وَلاَ كَثْرَةٍ مَا نُقَاتِلُهُمْ إِلاَّ بِهَذَا الدِّيْن الَّذِي أَكْرَمَنَا اللَّه به»

Kita memerangi manusia bukan dengan jumlah, kekuatan, dan pasukan yang banyak. Namun kita memerangi mereka dengan agama ini, yang dengan agama inilah Allah memuliakan kita (HR Ibnu Ishaq).
    

 

Karena itu, syarat takwa ini harus benar-benar kita perhatikan. Pelanggaran sedikit saja terhadap perkara tersebut, bisa menjauhkan pertolongan Allah SWT. Kasus Perang Hunain bisa menjadi pelajaran berharga. Pada perang ini, pasukan Islam berjumlah 12.000 orang. Sebagian di antara mereka mengira akan mengalahkan musuh mereka dengan mudah. Jumlah pasukan yang besar dianggap merupakan sebab kemenangan. Namun apa yang terjadi? Pada perang tersebut, pasukan Islam justru sempat lari tunggang-langgang digempur musuh dan hampir menderita kekalahan. Ketika mereka menyadari, bahwa mereka berangkat untuk berjihad, ikhlas karena Allah SWT, mereka pun segera merapatkan kembali barisannya. Sesudah itu, Allah SWT menurunkan pertolongan-Nya. Allah SWT berfirman:

[لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْئاً وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ,

ثُمَّ أَنَزلَ اللّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُوداً لَّمْ تَرَوْهَا وَعذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُواْ وَذَلِكَ جَزَاء الْكَافِرِينَ]

 

 

Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-beraiKemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.
(QS al-Taubah [9]: 25-26).

 

Allâhu Akbar 3X wa lil-Lâh al-hamd,

Jelaslah, agar pertolongan Allah segera datang, dan Khilafah tegak kembali, kita harus meningkatkan ketakwaan kita. Kita harus bertakwa dengan sebenar-benarnya (haqqa tuqâtihi). Sebab, ketakwaan inilah yang diperintahkan dalam QS Ali ‘Imran [3]: 102. Takwa yang sebenar-benarnya ini hanya ada, ketika kita telah mengerahkan seluruh kemampuan yang kita miliki untuk merealisasikannya. Allah SWT berfirman:

[فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنفِقُوا خَيْراً لِّأَنفُسِكُمْ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ[

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu
(QS al-Taghabun [64]: 16).

 

Kata mâ [i]statha’tum berarti sampai batas kemampuan yang kalian miliki. Ini artinya, dalam bertakwa kita harus mengerahkan seluruh kemampuan yang kita miliki. Bukan dengan setengah, sepertiga atau seperempat kemampuan kita.

Kita juga harus bertakwa dalam semua perkara yang disyariahkan. Tidak hanya menyangkut perkara ubudiyyah, makanan, dan akhlak saja. Namun juga bertakwa dalam perkara politik, pemerintahan, ekonomi, pendidikan, pergaulan, sanksi-sanksi hukum, dan seluruh bidang kehidupan lainnya. Allah SWT berfirman:

[وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ]

Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya (QS al-Hasyr [59] 7).

 

Ma’âsyira al-Muslimîn rahimakumul-Lâh,

Selain ketakwaan berupa ketaatan kepada hukum syara’, masih ada satu lagi yang harus diperhatikan untuk mendapatkan pertolongan Allah. Kita juga harus melakukan berbagai persiapan dan cara yang benar sesuai dengan keperluannya.

Aspek kedua ini juga harus kita perhatikan. Peristiwa dalam Perang Uhud bisa menjadi pelajaran berharga dalam perkara ini. Karena sebagian di antara mereka —yakni pasukan pemanah yang bertugas di atas bukit– tidak disiplin terhadap uslub (ketentuan teknis) yang telah ditetapkan Rasulullah SAW, kemenangan yang sudah hampir di tangan terpaksa harus sirna.

Untuk memperoleh kemenangan dalam peperangan misalnya, kaum Muslim harus terikat dengan syariah. Selain itu, kita juga harus melakukan persiapan, menyiapkan persenjataan, dan merancang strategi militer yang dapat mengalahkan dan menggentarkan musuh sebagaimana diperintahkan Allah SWT dalam QS al-Anfal [8]: 60. Dengan terpenuhinya dua syarat itu, insya Allah akan meraih kemenangan.

Demikian juga dalam perjuangan menegakkan syariah dan Khilafah. ِSyariat Islam (QS Ali ‘Imran [3]: 104) mengharuskan adanya kelompok atau organisasi dakwah. Gerakan/organisasi dakwah ini harus tunduk pada kewajiban syar’i. Asasnya akidah Islam, tujuannya melangsungkan kembali kehidupan Islam dengan tegaknya Khilafah, serta mengadopsi pemikiran dan hukum Islam. Dalam mencapai tujuan, gerakan tersebut juga harus mengikuti tharîqah (metode) dakwah Rasulullah SWT. Baik fikrah dan thariqah-nya tidak boleh menyimpang sedikit pun dari Islam. Anggota-anggotanya harus Muslim, taat kepada syariah, dan ikhlas berjuang karena Allah. Kemudian semuanya diikat dengan fikrah dan thariqah yang sama. Selain itu, mereka juga harus mempunyai politik yang sempurna.

Selain memenuhi kewajiban syar’i, gerakan/organisasi dakwah beserta pengembannya itu harus menggunakan berbagai uslûb (cara) dan wasîlah (sarana) yang mendukung tercapainya tujuan perjuangannya: tegaknya Khilafah. Dengan terpenuhinya dua syarat ini, insya Allah tegaknya khilafah hanya soal waktu.

 

Allâhu Akbar 3X wa lil-Lâh al-hamd,

Inilah syarat-syarat yang harus kita realisasikan untuk mendapatkan pertolongan Allah SWT: mengokokan keterikatan pada syariah dan menyiapkan berbagai cara dan sarana yang paling tepat. Dua aspek inilah yang harus terus-menerus kita jaga dan kita tingkatkan. Jika semua syarat ini sudah dipenuhi, insya Allah pertolongan-Nya segera tiba. Karena itu, jangan sekali-kali berputus asa, apalagi berbelok arah dan mengambil langkah pragmatis. Na’ûdzu bil-Lâh.

Akhirnya, hanya kepada-Nyalah kita mengharapkan pertolongan. Sebab Allah SWT berfirman:

[إِن يَنصُرْكُمُ اللّهُ فَلاَ غَالِبَ لَكُمْ وَإِن يَخْذُلْكُمْ فَمَن ذَا الَّذِي يَنصُرُكُم مِّن بَعْدِهِ وَعَلَى اللّهِ فَلْيَتَوَكِّلِ الْمُؤْمِنُون]َ

Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal
(Qs Ali ‘Imran [3]: 160).

 

Semoga Allah SWT memberikan kepada kita kekuatan iman dan semangat untuk menjalankan hukum-hukum Allah SWT. serta memasukkan kita ke dalam golongan pejuang-pejuang Islam, yang berupaya mewujudkan Khilafah, yang mengikuti manhaj Nabi SAW. Marilah kita berdoa kepada Allah SWT agar amal ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima di sisi Allah SWT, dan kita berhasil meraih derajat takwa.

 

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا، اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعَا إِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ وَمَنْ تَمَسَّكَ بِسُنَّةِ رَسُوْلِهِ إِلى يَوْمِ الدِّيْنِ..

اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا دُعَائَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا، اللّهُمَّ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ،

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَاِفِرِيْنَ،

اَللَّهُمَّ اجْعَلْناَ بِاْلأِيْماَنِ كاَمِلِيْنَ وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ وَلِلدَّعْوَةِ حَامِلِيْنَ وَبِاْلإِسْلاَمِ مُتَمَسِّكِيْنَ وَعَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنَ وَفِي الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ وَفِي اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ وَبِالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ وَلِلنِّعَمِ شاَكِرِيْنَ وَعَلَى اْلبَلاَءِ صاَبِرِيْنَ.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ بِلاَدَنَا هَذَا وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ سَخَاءً رَخاَءً، اَللَّهُمَّ مَنْ أَرَادَ بِناَ سُوْأً فَأَشْغِلْهُ فِي نَفْسِهِ وَمَنْ كَادَنَا فَكِدْهُ وَاجْعَلْ تَدْمِيْرَهُ في تَدْبِيْرِهِ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْناَ فِيْ ضَمَانِكَ وَأَمَانِكَ وَبِرِّكَ وَاِحْسَانِكَ وَاحْرُسْ بِعَيْنِكَ الَّتِيْ لاَ تَناَمُ وَاحْفَظْناَ بِرُكْنِكَ الَّذِيْ لاَ يُرَامُ.

اَللَّهُمَّ اَعِزِّ الإسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَنَا وَأَعْدَاءَ الدِّيْنِ،

اَللَّهُمَّ دَمِّرْ جُيُوْشَ الْكُفَّارِ الْمُسْتَعْمِرِيْنَ أَمْرِيْكَا وَحُلَفَاءَهَا الْمُلْعُوْنِيْنَ، اَللَّهُمَّ فَرِّقْ جَمْعَهُمْ وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ بِقُوَّتِكَ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

اَللّهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ الْحِساَبِ وَمُهْزِمَ اْلأَحْزَابِ اِهْزمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ والَصَلِّيْبِيِّيْنَ الظَّالِمِيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَالرَّأْسُمَالِيِّيْنَ وَإِخْوَانَهُمْ وَ اْلإِشْتِرَاكَيِّيْنَ وَالشُيُوْعِيِّيْنَ وَأَشْيَاعَهُمْ،

وَنَسْأَلُكَ اللَّهُمَّ تَحْرِيْرَ بِلاَدِ المُسْلِمِيْنَ، مِنْ فَلَسْطِيْنِ، وَاْلأَقْصَى، وَالْعِرَاقِ، وَالشَّيْشَانَ، وَأَفْغَانِسْتَانَ، وَسَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ نُفُوْذِ الْكُفَّارِ الْغَاصِبِيْنَ وَالْمُسْتَعْمِرِيْنَ.

اَللَّهُمَّ ارْحَمْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ اصْلِحْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ احْفَظْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَلَّذِيْنَ يُقْرَأُوْنَ الْقُرْآنَ وَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَ يُؤْتُوْنَ الزَّكَاةَ وَيَصُوْمُوْنَ صَوْمَ رَمَضَانَ، وَيَحُجُّوْنَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ وَيُجَاهِدُوْنَ فِي سَبِيْلِكَ بِأَمْوَالِنَا وَأَنْفُسِنَا وََيحْمِلُوْنَ الدَّعْوَةَ الإِسْلاَمِيَّةَ لاِسْتِئْنَافِ الْحَيَاةِ الإِسْلاَمِيَّة.

اَللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الخِلاَفَة الرَاشِدَة عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ، اَلَّتِي تُطَّبِّقُ شَرِيْعَتَكَ الْعُظْمَى وَتَحْمِي دِيْنَكَ وَمُعْتَنِقِيْهِ، وَتَحْمِلُهَا رِسَالَةَ إِلَى الْعَالَم بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَيا مُجِيْبَ السَّائِلِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَصَلَّى اللهُ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

اللهُ اَكْبَرْ 3× وَللهِ الْحَمْدُ.

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Posted in Dakwah | Leave a Comment »

Membuat Chamfer pada Part

Posted by langgeng pada 31 Agustus 2009

Sebelum Anda memulai, buatlah terlwbih dahulu sebuah part. Untuk prosedur ini, Anda akan mengaplikasikan sebuah chamfer dengan jarak yang sama (equal distance) pada part.

  • Pilih Part > Placed Feature > Chamfer.


  • Pada kotak dialog Chamfer, tentukan hal-hal sebagai berikut:
    • Operation: Equal distance
    • Distance 1: 10
    • Pilih OK.


  • Seleksi tepi atau permukaan untuk di-chamfer (garis putus-putus di bawah adalah tepi yang telah diseleksi).


  • Tekan ENTER.
  • Tekan ENTER lagi.

 

Menggunakan dua jarak (two distances)

Untuk mengaplikasikan sebuah chamfer dengan rincian dua jarak, pada kotak dialog Chamfer, set opsi Operation ke Two Distance dan tentukan nilai untuk Distance 1 dan Distance 2. Nilai-nilai ini menentukan besaran yang masing-masing tepi atau permukaan yang di-trim atau direntangkan bersilang (intersect) atau menyambung (join) dengan sebuah garis miring (beveled line).


 

Menggunakan jarak dan sudut (a distance and an angle)

Untuk mengaplikasikan sebuah chamfer dengan rincian sebuah jarak dan sebuah sudut, pada kotak dialog Chamfer, set opsi Operation ke Distance dan Angle, dan tentukan nilai untuk Distance 1 dan Distance 2. Nilai untuk sudut menentukan panjang dari chamfer dan membentuk sudutnya dengan memilih tepi atau permukaan.


 

Chamfer semua tepi permukaan

Untuk mengaplikasikan chamfer ke semua tepi-tepinya di bagian permukaan secara bersamaan, atau untuk men-chamfer tepi di beberapa permukaan, seleksi di banyak tepi atau permukaan pada part yang diperlukan. Anda tidak perlu menekan ENTER atau perintah restart untuk setiap kali chamfer.

Posted in Tutorial SolidWorks | Leave a Comment »

Rakyat Amerika Sedang Kehilangan Kepercayaan Kepada Barack Obama

Posted by langgeng pada 24 Agustus 2009

Melalui hasil jajak pendapat yang dipublikasikan pada hari Jumat (21/08) menunjukan bahwa rakyat Amerika yang sedang diselimuti keprihatinan tentang berbagai reformasi di masa depan, termasuk reformasi terhadap tingkat pelayanan kesehatan, dan peningkatan defisit anggaran mulai kehilangan kepercayaannya kepada Presiden Amerika, Barack Obama.

Kantor berita Suriah “SANA” mengatakan bahwa hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh Pusat “Post ABC News” untuk jajak pendapat menunjukkan bahwa kurang dari setengah rakyat Amerika, yakni hanya 49% saja yang masih percaya bahwa Presiden Amerika, Barack Obama akan membuat keputusan yang tepat untuk negaranya. Hal ini menunjukkan adanya penurunan yang signifikan dari sebelumnya 60% mereka yang percaya kepada Barack Obama, yaitu pada peringatan seratus hari pertama kepemimpinannya.

Hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa secara keseluruhan kepuasan terhadap kinerja Obama mencapai 57%, ini turun 12 poin sejak April lalu.

Menurut hasil jajak pendapat bahwa “53% responden tidak puas dengan cara penanganan Obama terhadap masalah defisit anggaran, termasuk penarikan dukungan mereka terhadap reformasi sistem pelayanan kesehatan.” (mediaumat.com, 24/08/2009)

Posted in Berita | Leave a Comment »

“AS Harus Tahu, Kami Sangat Membenci Kalian …”

Posted by langgeng pada 24 Agustus 2009


Kebijakan-kebijakan luar negeri AS dengan dalih ‘perang melawan teror’ menimbulkan sentimen anti-AS yang makin menguat terutama di negeri-negeri Muslim, salah satunya di Pakistan. Kebencian rakyat Pakistan terhadap AS diungkapkan oleh pejabat kementerian luar negeri AS bidang diplomasi publik, Judith McHale.

McHale mengutip pernyataan wartawan Pakistan Ansar Abbasi yang mengecam keras kebijakan-kebijakan luar negeri AS. “Dia (Abbasi) mampu berbahasa Inggris dengan baik, dan dia bilang ribuan manusia tak berdosa terbunuh gara-gara kami (AS) memburu Usamah bin Ladin,” kata McHale menirukan pernyataan Abbasi.

Menurut McHale, Abbas juga mengatakan padanya bahwa rakyat Pakistan membenci semua orang Amerika. “Anda harus tahu bahwa kami membenci semua orang Amerika, dari lubuk hati yang paling dalam, kami benci Anda,” masih kata McHale mengutip ucapan Abbasi, seperti dilansir New York Times, edisi Kamis (20/8).

Pemerintahan Obama berusaha merangkul kelompok-kelompok Islamis di Pakistan dalam upayanya memberangus para pejuang dan pendukung Taliban yang oleh AS diduga banyak bersembunyi di daerah-daerah pedalam Pakistan yang berbatasan langsung dengan Afghanistan. Selama ini, militer AS di Afghanistan berulangkali melanggar kedaulatan negara Pakistan dengan melakukan serangan pesawat tanpa awak ke wilayah Pakistan, dengan dalih menghancurkan basis-basis Taliban. Serangan-serangan itu menimbulkan banyak korban jiwa di kalangan warga sipil di Pakistan.

AS berhasil membujuk pemerintahan Pakistan untuk ikut menumpas kelompok Taliban di negerinya. Militer Pakistan pun melakukan berbagai operasi militer terhadap basis-basis Taliban, terutama di lembah Swat dan Waziristan Selatan. Operasi militer Pakistan lewat dukungan AS ini memicu krisis kemanusiaan dimana hampir 3 juta warga Swat terpaksa mengungsi untuk menghindari pertempuran antara kelompok Taliban dan militer Pakistan. Sementara AS menjanjikan bantuan dana milyaran dollar pada pemerintah Paksitan atas imbalan kesediaan pemerintah Pakistan ikut menumpas Taliban.

Namun upaya itu ternyata belum mampu melemahkan posisi Taliban. Pada akhirnya, pemerintah Pakistan bernegosiasi dengan Taliban dan memenuhi tuntutan Taliban agar diberlakukan syariah Islam di wilayah-wilayah yang menjadi basis Taliban. Sebuah keputusan yang ditentang AS.

AS lalu mengirim utusan khususnya untuk Pakistan dan Afghanistan, Richard Hoolbroke yang ditugaskan mendekati dua partai Islamis terbesar di Pakistaan Jammat-e-Islami dan Jamiat Ulama Islam dan membujuk kedua partai ini agar mau bersama-sama AS memerangi Taliban. Tapi AS harus gigit jari, karena kedua partai islamis tersebut justeru menekan AS agar segera mengakhiri penjajahannya di Afghanistan dan Pakistan.

Rakyat Pakistan sendiri sudah muak dengan perilaku negara AS yang melakukan serangan sepihak sehingga menimbulkan korban jiwa di kalangan warga tak berdosa di Pakistan. Survei yang digelar Gallup Pakistan belum lama ini menunjukkan bahwa 74 persen rakyat Pakistan menganggap AS sebagai musuh mereka. Hasil serupa terlihat dalam survei yang dilakukan Pew Research Center’s Global Attitudes yang menunjukkan bahwa 64 persen rakyat Pakistan memandang AS sebagai musuh. (eramuslim.com, 21/8/2009)

Posted in Berita | Leave a Comment »

Bagaimana Menentukan Awal dan Akhir Ramadhan?

Posted by langgeng pada 19 Agustus 2009

Dalil yang menyatakan tentang dimulainya berpuasa dan berhari raya adalah hadits Rasulullah saw:

  «صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ»

“Berpuasalah kalian karena melihat bulan, dan berhari rayalah kalian karena melihatnya.” (HR. Muslim)

Juga firman Allah SWT:

« فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ»

“Siapa saja di antara kalian yang menyaksikan bulan (hilal Ramadhan), maka hendaknya dia berpuasa.” (QS. Al-Baqarah [02]: 185)

Artinya kita baru diperbolehkan berpuasa apabila diantara kita ada yang melihat secara langsung bulan (hilal) sebagai pertanda pergantian bulan, meskipun secara perhitungan (hisab) bulan yang baru telah masuk.

Lantas bagaimana sekiranya kalau kita tidak bisa melihat bulan karena terhalang oleh mendung, meskipun hilal nyata-nyata ada? Maka dalam hal ini Rasulullah kemudian menyatakan:    

«فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوْا عِدَّةَ شَعْبَانَ»

“Jika mendung telah menghalangi kalian, maka sempurnakanlah (genapkanlah) hitungan Sya’ban.” (HR. Muslim)

Penentuan awal Ramadhan berbeda dengan penentuan waktu Shalat

Sedangkan hukum yang berkaitan dengan waktu pelaksanaan shalat berbeda dengan hukum penentuan awal puasa. Dalil-dalil tentang waktu shalat adalah sbb:

«أَقِمِ الصَّلاَةَ لِدُلُوْكِ الشَّمْسِ»

“Dirikanlah shalat, karena matahari telah tergelincir.” (QS. Al-Isra’ [17]: 78)

«إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ فَصَلَّوْا»

“Jika matahari telah tergelincir, maka shalatlah kalian.” (HR. at-Thabrani)

Jadi, praktik shalat tergantung pada waktu, dan dengan cara apapun agar waktu shalat itu bisa dibuktikan, maka shalat pun bisa dilakukan dengan cara tersebut. Jika kita melihat matahari untuk melihat waktu zawal (tergelincirnya matahari), atau melihat bayangan agar kita bisa melihat bayangan benda, apakah sama atau melebihinya, sebagaimana yang dinyatakan dalam hadits-hadits tentang waktu shalat; jika kita melakukanya, dan kita bisa membuktikan waktu tersebut, maka shalat kita pun sah. Jika kita tidak melakukannya, tetapi cukup dengan menghitungnya dengan perhitungan astronomi, kemudian kita tahu bahwa waktu zawal itu jatuh jam ini, kemudian kita melihat jam kita, tanpa harus keluar untuk melihat matahari atau bayangan, maka shalat kita pun sah. Dengan kata lain, waktu tersebut bisa dibuktikan dengan cara apapun. Mengapa? Karena Allah SWT telah memerintahkan kita untuk melakukan shalat ketika waktunya masuk, dan menyerahkan kepada kita untuk melakukan pembuktian masuknya waktu tersebut tanpa memberikan ketentuan detail, tentang bagaimana cara membuktikannya.

Rukyat global dan sikap kaum muslimin dalam menentukan awal Ramadhan

Hadits tentang dimulainya berpuasa dan berhari raya di atas, bermakna umum yakni berlaku bagi siapa saja yang telah melihat hilal. Artinya siapa saja diantara seluruh kaum muslimin di muka bumi ini yang telah melihat hilal, maka pada saat itulah bulan baru telah masuk dan kaum muslimin diwajibkan untuk berpuasa atau berhari raya.

Berdasarkan sumber dari Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama MA-RI, ijtima’ menjelang awal bulan Ramadhan 1430 H jatuh pada hari Kamis, 20 Agustus 2009 M, bertepatan dengan 29 Sya’ban 1430 H, sekitar pukul 17:02 WIB. Pada saat matahari terbenam hari itu, ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia masih di bawah ufuk, antara -3°10′ sampai -0°50′. Artinya hilal belum wujud. Sehingga secara ilmu falaq di seluruh wilayah Indonesia muatahil untuk bisa melihat hilal.

Namun berdasarkan dalil di atas, maka kita umat muslim di Indonesia bisa menunggu hasil rukyat saudara-saudara kita yang berada di wilayah bagian barat dari Indonesia, yakni seperti India, Arab Saudi, Timur Tengah dan Afrika. Di wilayah tersebut pada saat matahari terbenam, ketinggian hilal sudah diatas ufuk, sehingga ada peluang hilal akan terlihat oleh saudara-saudara kita yang ada di sana.

Mengingat ini adalah perkara hukum syariah, maka alangkah mulianya apabila kita selalu mensandarkan kepada dalil-dalil syariah yang Allah SWT turunkan kepada manusia dalam menyelesaikan permasalahan hidupnya, termasuk dalam hal ini adalah menentukan awal Ramadhan. Sehingga kita bisa menunggu kabar dari saudara-saudara kita sesama muslim yang ada di India, Arab Saudi, Timur Tengah atau Afrika.

Wallahua’lam bi as-showab

Posted in Hukum Syariah | 1 Comment »